Orang-Orang di Persimpangan Perubahan

Sky Burial (Pemakaman Langit)
Karya Xinran Xue

Terbit 2007 (cetak pertamakali 2005) oleh Penerbit Serambi | Binding: Paperback | ISBN: – (isbn13: 9789791275026) | Halaman: 310

Penerjemah: Ken Nadia Irawardhani Kartakusuma

BAGI orang Tibet, tahun 1959 digambarkan sebagai akhir sebuah era. Sebagai suatu negeri yang digambarkan sebagai sebuah “biara raksasa” karena kekentalan spiritualitasnya, masuknya China dengan Tentara Pembebasan Rakyatnya ke Tibet dianggap menodai kesucian “biara raksasa” itu. Tapi tentu saja itu cerita besar yang membungkus cerita di dalam buku ini.

Cerita yang disajikan buku ini bergerak jauh lebih kecil. Pada mulanya sebatas cinta Shu Wen pada suaminya, Kejun, seorang dokter yang ditugaskan ke Tibet. Namun kemudian tiba-tiba suaminya dikabarkan meninggal. Atas sebab apa? Tidak ada penjelasan apa-apa. Padahal Shu Wen baru 100 hari menikah dengannya. Tentu saja, digerakkan oleh cinta yang begitu besar, Shu Wen yang juga seorang dokter spesialis dermatologis berangkat sendiri ke Tibet mencari suaminya hidup atau mati. Maka jadilah ini misi personal Shu Wen yang akhirnya membuatnya melanglang di Tibet selama 30 tahun dan bertemu dengan Zhouma, gadis bangsawan Tibet yang juga mengalami nasib serupa dengannya: kehilangan orang yang disayanginya, Tiannamen, seorang pelayan di rumahnya.

Shu Wen, Zhouma, Tiannamen adalah orang-orang di persimpangan jalan di tengah narasi besar yang sedang berubah. Menarik sekali mencermati cara pandang yang berbeda pada diri Shu Wen akan Tibet. Begitu juga cara pandang Zhouma pada China. Masing-masing menyimpan kebutaan, tetapi sekaligus kekaguman akan negeri masing-masing yang berujung pada kecintaan. Sungguh aneh, ada cinta tanpa batas di dua negeri yang justru sedang berseteru. Kebingungan Shu Wen hidup dalam keluarga nomaden yang membawanya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain mengikuti musim sungguh menarik untuk diikuti, begitu juga sebaliknya: kebingungannya pada pria yang justru lebih jago menjahit daripada perempuan, cara makan sarapan yang dihirup, dan hal paling favorit waktu anak Gela yang kecil kaget setengah mati melihat foto Kejun yang dibawa Shu Wen dan teriak “setaaaaaaaannn…” Tentu saja bagian paling memilukan ada di akhir cerita yang membuatku sesak nafas membayangkan segunung kesedihan yang dipanggul Shu Wen, yang barangkali lebih besar daripada Himalaya itu sendiri.

Penerjemahan buku ini awalnya lumayan, tapi belakangan cukup mengesalkan karena agak menyeret-nyeret pembacaan. Thanks untuk teman-teman yang sudah menemani baca.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s