Buku Berpolemik yang Menimbulkan Polemik

Nusantara: Sejarah Indonesia
Karya Bernard H.M. Vlekke

Terbit 2008 oleh KPG (terbit pertamakali 1961) | ISBN: – (isbn13: 9789799101075) | Halaman: 450

Penerjemah: Samsudin Berlia


“Membaca buku polemik akan menghasilkan polemik juga pada akhirnya.”

PALING tidak itu yang terjadi padaku setelah usai membaca buku ini suatu saat lalu. Berkali-kali buku ini aku gunakan sebagai pembanding sejumlah buku atau data lain yang kubaca. Topik-topik polemik yang muncul pun beragam, mulai dari “mana yang benar: Nusantara atau Indonesia” dengan membandingkannya pada kisah James Logan yang kali pertama menemukan kata Indonesia, “siapa yang berperan pada nasionalisme: Belanda atau Majapahit” dengan bandingan indolog senegaranya Harry Poeze bahkan sekelas Slamet Muljana, “mengapa dan ada apa dengan pemerintahan Inggris Raffles” dengan bandingan buku yang ditulis Raffles sendiri, The History of Java dan sejumlah polemik lain.

Mengapa buku ini mengandung polemik? Kiranya menarik untuk mengetahui sedikit motif di belakang buku ini. Bernard H.M. Vlekke adalah indolog dari Belanda yang menulis buku ini di tahun 1943-an sewaktu ia ke Amerika. Berbeda dengan karya kebanyakan indolog senegaranya, ia ingin menggambarkan makna penting kehadiran Belanda di Nusantara dalam kerangka sine ira et studio (tanpa amarah atau rasa suka). Artinya, ia menegaskan kenetralannya dalam mencatat peristiwa-peristiwa di masa lalu yang dapat dirangkum sebagai sejarah Indonesia.

Namun sesuai anjuran tulisan Achmad Sunjayadi, seorang pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI dan Erasmus Taalcentrum Jakarta yang dimuat di Kompas, tanggal 27 Oktober 2008, aku coba membaca buku ini dengan kewaspadaan. Terlebih-lebih pada penekanan bahwa Vlekke mencoba memberi jarak intelektual pada karya tulisnya ini. Dalam ilmu sosial, subjektivitas dan objektivitas ilmiah merupakan wilayah rawan untuk dilalui. Kita ibarat berjalan di atas danau yang membeku karena es sehingga langkah yang tidak hati-hati akan membuat yang berjalan di atas es tipis itu akan jatuh ke dalam danau beku.

Polemik awal: Nusantara atau Indonesia.

Tentu saja, ada alasan mengapa nama Nusantara dijadikan judul utama buku karangan Vlekke ini. Judul aslinya sesuai tahun terbit 1943 adalah Nusantara: A History of the East Indian Archipelago. Namun pada edisi kelima, judulnya sedikit diubah menjadi Nusantara: A History of Indonesia.

Adalah Ernest Francois Eugene Douwes Dekker yang dipercaya memopulerkan kata “Nusantara”. Douwes Dekker mengambil nama ini dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit. Naskah ini ditemukan akhir abad ke-19 di Bali yang lalu diterjemahkan JLA Brandes dan diterbitkan Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920. Hal menarik adalah pengertian Nusantara usulan Douwes Dekker sangat berbeda dengan pengertian Nusantara zaman Majapahit.

Pada masa Majapahit, kata Nusantara dipakai untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (dalam bahasa Sansekerta “nusa” adalah pulau, sedang ”antara” berarti luar atau seberang) untuk dioposisikan dengan pulau induk Jawadwipa (Pulau Jawa). Douwes Dekker mengotak-atik kata nusantara zaman Majapahit yang bermakna kolonialis dan memodifikasinya sehingga memiliki pengertian nasionalis. Dengan demikian, Jawa pun masuk dalam definisi nusantara yang modern.

Lalu bagaimana kata Indonesia pertama kali muncul ke permukaan? Menilik sejarahnya, sebagaimana yang tercantum dalam buku The Idea of Indonesia, RE Elson, kata “Indonesia” pertama kali dibuat pada tahun 1850 oleh George Samuel Windsor Earl. Dia menulisnya dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Earl sedang mencari-cari terminologi etnografis untuk menerangkan “… cabang dari ras polynesia yang hidup di kepulauan India” atau “ras kulit coklat di kepulauan India”. Ia cetuskan nama Indunesian dari “Indu” atau “Hindu” dengan kata “nesos” atau “pulau” dari bahasa Yunani. Namun pada akhirnya Earl menggantinya jadi “Malayunesian” dari kata “mala” atau “malaya” artinya “gunung” dari bahasa-bahasa Tamil atau Dravidia di kawasan India. Sehingga disebut “Malayan” alias “orang gunung.” Malayan lantas berubah jadi Malay dan Melayu.

James Logan menanggapi usul George Earl, kawannya itu yang pada waktu itu sama-sama pernah mencecap Pulau Penang soal “Indunesians.” Logan berpendapat “Indonesian” merupakan kata yang lebih menjelaskan dan lebih tepat daripada kata “Malayunesians,” terutama untuk pemahaman geografi, daripada secara etnografi. “I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian islands or the Indian Archipelago. We thus get Indonesian for Indian Archipelagian or Archipelagic, and Indonesians for Indian Archipelagians or Indian Islanders.”

Namun kata “Indonesia” tak segera populer. Elson menerangkan bahwa pada 1877, E. T. Hamy, seorang anthropolog Prancis, memakai kata “Indonesians” untuk menerangkan kelompok-kelompok pra-Melayu di kepulauan ini. Pada 1880, anthropolog Inggris A. H. Keane mengikuti Hamy. Perlahan-lahan kata “Indonesia” dipakai para ilmuwan sosial, termasuk Adolf Bastian, ahli etnografi terkenal dari Berlin, yang setuju dengan penjelasan James Logan serta memakai kata “Indonesia” dalam karya klasiknya, Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel, lima jilid terbitan 1884–1894. Reputasi Bastian membuat kata “Indonesia” jadi pindah dari jurnal kecil terbitan Penang ke tempat terhormat di kalangan akademisi Eropa.

Hal itu juga mendorong profesor-profesor di Belanda ikut memakai terminologi ini. G. A. Wilken, profesor di Universitas Leiden, pada 1885 memakai kata “Indonesia” untuk menerangkan Hindia Belanda. Wilken mengagumi karya Adolf Bastian. Profesor lain termasuk H. Kern (ahli bahasa kuno), G. K. Niemann, C. M. Pleyte, Christiaan Snouck Hurgronje maupun A. C. Kruyt, mengikuti Wilken.

Pada awal abad 20, kata benda “Indonesier” dan kata sifat “Indonesich” sudah tenar digunakan oleh para pemrakarsa politik etis, baik di Belanda maupun Hindia Belanda. Pada September 1922, saat pergantian ketua antara Dr. Soetomo dan Herman Kartawisastra, organisasi Indische Vereeniging di Belanda mengubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Perhimpunan ini banyak berperan dalam merumuskan nasionalisme Indonesia. Pada 1926, ketika Mohammad Hatta menjadi ketua Indonesische Vereeniging, pembentukan nasionalisme Indonesia makin dimatangkan. Ia hanya soal waktu sebelum terminologi “Indonesia” digunakan oleh orang-orang berpendidikan di kota-kota besar Hindia Belanda.

Hhmm, polemik yang ramai kan?

Polemik kedua: siapa berperan pada nasionalisme – kolonialisme Belanda ataukah kejayaan Majapahit?

Vlekke menulis bahwa bagi Belanda, persatuan Indonesia sebenarnya tidak ada dan sebenarnya berkat Belanda-lah ”persatuan” dari Sabang hingga Merauke itu ada. Penyatuan Indonesia ini lebih disebabkan masa silam gemilang Indonesia yang disebut Nusantara.

Namun banyak tulisan lain berargumen bahwa perubahan sosial-politik wajah dunia dengan memperkenalkan konsep kemerdekaan berpikir, munculnya media massa, lahirnya organisasi modern macam Boedi Oetomo, Payuguban Pasundan yang jelas tidak dibentuk oleh Belanda sesungguhnya yang melahirkan nasionalisme Indonesia.

Dan polemik terakhir mengenai pemerin
tah singkat kerajaan Inggris di Indonesia. Dalam buku ini, tulisan ini muncul dalam satu bab tersendiri yang seolah disediakan Vlekke untuk mencerca Raffles dengan membeberkan semua keburukan-keburukan kolonial Inggris dan kegagalan Raffles mengelola Jawa. Sungguh, khusus mengenai bab ini membuatku melihat sebenarnya Vlekke sudah jatuh ke dalam danau penuh es karena ulahnya sendiri.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s