Jawa di Mata Raffles

The History of Java
Karya Thomas Stamford Raffles

Terbit 2008 oleh Penerbit Narasi Yogya | Binding: Hardcover | ISBN: 979168099X (isbn13: 9789791680998) | Halaman: 938

PERTENGAHAN tahun 2008 lalu, buku ini terlihat gagah berdiri di antara rimbunan buku-buku lain. Mungkin figur orang Jawa laki-laki dengan dua senjata di pinggangnya: keris dan badik yang dijadikan sampul membuatnya kelihatan lebih macho ketimbang hamparan warna-warni buku-buku chicklit. Bisa jadi karena kulit sampulnya tebal, namun tak setebal bukunya itu sendiri. Lalu judul yang menarik hati: The History of Java. Ditulis oleh Thomas Stamford Raffles selama menjadi Gubernur Jendral di Hindia Belanda (1811-1815) dengan dibantu oleh dua asistennya, James Crawfurd dan Colin Mackenzie dan secara mencolok di sampul belakang, Raffles menulis demikian: “Saya yakin tak ada orang yang memiliki informasi mengenai Jawa sebanyak yang saya miliki…” Ah, masak sih? Jadi penasaran…

Maka kupindahkan “buku babon tentang Jawa ini” ke lemari bacaku dan dua kali sudah aku baca buku ini. Yang pertama, sekedar ingin tahu cara pandang Raffles terhadap orang Jawa dan Jawa secara keseluruhan yang membuatnya jadi gandrung. Yang kedua, baru saja dibaca akhir Maret 2009 ini untuk mencari beberapa informasi mengenai candi Borobudur.

Saat baca pertama kali ternyata lumayan membantu memahami apa yang Raffles kumpulkan. Misalnya tentang asal kata “Jawa”. Jawa mungkin berasal dari kata jemawut yakni sejenis gandum atau padi-padian. Atau dari kata sanskrit Yava yang artinya gandum. Pada masa sebelumnya, ada juga istilah lain yakni Nusa hara-hara atau Nusa kendang. Oo…

Lalu ada lagi yang menarik. Jawa yang dimaksud Raffles adalah Jawa di awal tahun 1800-an, ketika Badan Usaha Belanda (maksudnya VOC) terus mengalami kerugian drastis dan masa transisi masuknya pemodal swasta. Juga Jawa pada masa itu yang dimaksud oleh Raffles ternyata terbagi antara “Jawa besar” dan “Jawa kecil”. Ada dua tafsir atas atas keterangan itu. Pertama, “Jawa besar” merujuk pada Sumatra. Sedang “Jawa kecil” merujuk pada pulau Jawa itu sendiri. Tapi ada lagi yang menafsir, “Jawa besar” itu pulau Jawa, sedang “Jawa kecil” itu Bali, Madura, dan sekitarnya. Kartografi pada masa itu memang belum lengkap, sehingga hanya beberapa pulau saja yang punya penamaan.

Soal-soal lain yang menarik adalah terjemahan lengkap dari Aji Saka yang memuat kisahan tentang sejarah kemunculan kerajaan Jawa. Tapi yang paling menarik dari semua itu menurutku adalah data-data itu didukung oleh catatan-catatan kaki yang sungguh menawan. Misalnya bisa aku baca tentang catatan pribumi tentang tertangkapnya Surapati, perjalanan dagang Portugis dan lain-lain.

Kedua kali kubaca buku ini, berkaitan dengan candi Borobudur. Adalah Thomas Raffles orang yang berambisi untuk menggali candi Buddha terbesar ini. Sebelumnya, keberadaan candi itu memang diketahui orang-orang, tetapi kebanyakan terlalu takut untuk membersihkan “bukit ilalang” yang besar di daerah Kedu, Magelang itu. Dengan menyuruh H.C. Cornelius, akhirnya benda kuno terbesar itu terkuak dan mulai jadi perhatian banyak orang. Raffles juga yang memberi tambahan data tentang penamaan Borobudur. Selama ini Borobudur dikenal berasal dari kata “Boro” yang artinya Biara, dan “Budur” dari bahasa Bali “beduhur” yang artinya Di atas. Namun Raffles menambahkan pengartian lain bahwa Borobudur kemudian dikenal dengan Borobudha artinya Biara Budhis dan juga bisa berasal dari kata Boro, yakni nama distrik di sana, dan Bodo yang artinya kuno. Wow!

Sebenarnya candi Borobudur bukan satu-satunya candi yang Raffles bongkar keberadaannya. Pada masa itu, candi-candi lain yang terbengkalai dan ditumbuhi ilalang karena disebut oleh orang-orang Jawa bahwa itu peninggalan “wong kuno, kapir, buda” dan hampir semuanya akhirnya dibersihkan dan dicatat dengan rapi olehnya.

Jujur saja, masih banyak harta intelektual yang bisa digali lagi dari buku ini, karena yang dicatat Raffles bukan melulu sejarah, tetapi juga hal-hal yang barangkali di matanya dianggap unik seperti fashion orang Jawa, cara makan, apa yang dimakan, lalu flora dan fauna termasuk tentang racun pohon upas yang amat mematikan. Tapi tentu saja, perlu kacamata kritis untuk menyikapi buku ini yang sudah kentara jelas kehadirannya kontra atas segala yang berbau Belanda. Kritik atas badan usaha Belanda (maksudnya VOC), mengenai kerugian, gemuknya administrasi Belanda, dapat ditemukan dengan mudah di sana-sini. Tak heran misalnya, ada kritik yang ditujukan atas buku ini. Tapi tetap, buku ini dapat dijadikan referensi yang menakjubkan tentang Jawa pada masa itu.

4/5

Iklan

3 pemikiran pada “Jawa di Mata Raffles

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s