Apakah Rendra peziarah terakhir dalam ranah sastra kita?

Sadjak-Sadjak Sepatu Tua
Karya W.S. Rendra

Terbit 1972 oleh Pustaka Jaya | Binding: Paperback | ISBN: – | Halaman: 88

PERNAHKAH Anda perhatikan, mengapa banyak orang yang menekuni dunia sastra menamakan dirinya dengan embel-embel “peziarah”? Entah mengambil nama “peziarah sunyi”, “peziarah fana”, “peziarah malam”, “peziarah sepi” atau lainnya? Aku pikir memang ada kaitan antar keduanya. Kehidupan sastrawan memang mirip dengan peziarah yang menjalani ritual hidup yang sunyi dan kontemplatif. Sebagai peziarah, seorang sastrawan terus mencari dan melepaskan seribu anak panah pertanyaan hidup.

Hal ini termasuk berlaku bagi WS Rendra. Ia juga seorang peziarah. Lewat peziarahannya, sastra dilahirkan. Karena itu sastra yang lahir dari Rendra biasanya mengandung upaya membangkitkan kesadaran reflektif yang ditulis secara kreatif. Lewat sajak-sajaknya dalam buku ini, Rendra merekam banyak tempat yang ada di belahan dunia yang telah diziarahinya: Mancuria, Pyongyang, Moskwa, Canton, Hongkong, Solo, Jalan Sagan Yogya, Sawojajar Yogya, Hutan Bogor, Sungai Musi, dan lain-lain. Semua tempat itu ia kunjungi dan ia renungi. Karena memang lewat cara yang demikian itu, ia berharap karyanya dapat memberikan pencerahan bagi pembaca.

“Sepatu tua” adalah simbolisasi peziarahannya. Secara kiasan dengan kata “sepatu tua” itu, Rendra ingin mengatakan mengenai sesuatu yang tak kekal, tetapi lebih berarti ketimbang mati, sesuatu yang tak berguna dan bisa dibuang, tetapi tak akan bisa dicampakkan. Ia sedang membagi hasil peziarahannya.

Dalam peziarahannya ke luar negerinya, misalnya, Rendra justru menemukan dirinya. Simak puisi berikut yang berjudul “Mancuria”:
Di padang-padang yang luas / kuda-kuda liar berpacu. / Rindu dan tuju selalu berpacu. / Di rumput-rumput yang tinggi / angin menggosokkan punggungnya yang gatal. / Di padang yang luas aku ditantang. / Hujan turun di atas padang. / Wahai, badai dan hujan di atas padang! / Dan di cakrawala, di dalam hujan / kulihat diriku yang dulu hilang.

Dengan bahasa yang sederhana tapi indah, sajak ini meluncur kepada pembaca tentang bagaimana Rendra memandang dirinya. Saat ia melihat Mancuria, ingatannya membawa kita pada padang-padang luas tempat dimana kuda-kuda liar berada. Kuda liar yang tak kenal teritori dan selalu harus berhadapan dengan ganasnya alam. Dalam diri kuda liar itu, Rendra merefleksi dirinya. Ia adalah sang kuda liar itu sendiri sebagaimana ia tuliskan “Dan di cakrawala, di dalam hujan / kulihat diriku yang dulu hilang.

Setelah perjalanan luar negerinya, Rendra berziarah di dalam negeri sebagaimana tertuang di bagian kedua. Misalnya dalam “Pasar Malam Sriwedari, Solo”. Itu saat ia berjalan ke pasar malam, menemukan keramaian tontonan, dan ia sodorkan sebuah pertanyaan penting pada pembaca sebagai kritik sosial atas kebudayaan negeri ini. Ia mengkritik tontonan yang justru merendahkan kemanusiaan.

Di tengah lampu aneka warna,/ balon mainan bundar-bundar. / rok-rok pesta warna, / dan wajah-wajah tanpa jiwa, / kita jagal sendiri hati kita / … / Tempat ini sangat bising dan bising sekali. / Gong, gendang, gitar dan biola. / terkacau dalam sebuah luka. / Ayohlah! / Anda sedang menertawakan dunia, / ataukah dunia sedang menertawakan anda?

Peziarahan Rendra kian lama kian dalam dan mencerminkan kecintaannya pada Indonesia negerinya. Di akhir sajak “A Landscape for Dear Victor” Rendra menulis demikian Victor yang baik,/ percik darah saya yang pertama / di bumi ini tumpahnya. Itulah Rendra, yang lahir dan bangga pada negerinya.

Dalam kumpulan ini, terutama di bagian Masmur Mawar, suasana religiositas Rendra makin mengental. Religiositas tentu tak dapat dilepaskan dari peziarahan. Ziarah atau jiarah seringkali diakronimkan dengan siji sing di arah (satu yang diarah). Ziarah sesungguhnya adalah “agama” untuk menemukan tuhan. Dan mazmur sebenarnya adalah sebuah kidung atau tembang para peziarah yang didialogiskan kepada Sang Pencipta. Sebuah kidung tak melulu harus berisi puja-puji, bisa juga sebuah tangisan seperti dalam sajak “Dunia yang sedang marah”.

Tuhan menangis dan mengerti. / Tuhan selalu menangis dan mengerti. / Selalu ditikam. Selalu dikhianati

Siapakah tuhan bagi Rendra setelah ia berziarah sepanjang hidupnya, dari negeri luar hingga negerinya sendiri, merambah hatinya sendiri. Ia menuliskan sendiri dalam sajaknya yang menjadi judul bagian ini: “Masmur Mawar”.

Dan sekarang saya lihat / Tuhan sebagai orang tua renta tidur melengkung di trotoir / batuk-batuk kerna malam yang dingin / dan tangannya menekan perutnya yang lapar. / Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma, / menangis di tepi jalan.

Wahai, ia adalah teman kita yang akrab! / Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi. / Para perampok, pembunuh, penjudi, pelacur, penganggur, dan peminta-minta. / Marilah kita datang kepadaNya ——— / kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.

Dengan kata lain, Rendra ingin berujar bahwa tuhan bukanlah jauh tak terjangkau, tuhan justru terefleksikan dalam diri sesama kita.

Pertanyaan penting yang lahir setelah membaca hasil ziarah Rendra ini, dimanakah hasil peziarahan sastrawan lain, terutama mereka yang terlanjur bangga melekatkan embel-embel peziarah pada dirinya? Apakah bisa dibagikan sehingga memberi pencerahan bagi para pembaca? Ataukah Rendra peziarah terakhir dalam ranah sastra kita?

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s