Bila Guru dan Murid Sama-sama Kencing

Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari: Kedua Puncak Korupsi, Kolusi dan Nepotisme Rezim Orde Baru dari Soeharto ke Habibie
Karya George Junus Adjitjondro

Terbit April 1999 (cetakan pertama 1998) oleh PIJAR Indonesia | Binding: Paperback | ISBN: – | Halaman: 160

JAUH jauuuuh sebelum gebrakan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) hadir di ruang-ruang publik seperti yang terlihat hari ini di sekitar kita, orang-orang selalu menantikan kabar dari pengamat politik yang mirip-mirip detektif partikelir ini: George Junus Aditjondro (GJA). Bekas dosen Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah ini menulis bukan hanya buku-buku penting yang didasarkan pada data yang luar biasa yang mungkin pernah orang dengar dari majalah luar negeri seperti Fortune, tetapi karena sulit mendapatkan majalah itu di dalam negeri, orang kemudian terheran-heran waktu membaca isi buku yang ditulis George selama di Australia ini, yang disebut sebagai negeri pengasingannya.

Terbitnya buku ini di tahun 1999 segera disusul dengan munculnya kaos-kaos T-shirt bergambar karikatur wajah Habibie dengan tulisan “Achtung!” (yang merilis keluarnya kaos itu, entah siapa…) yang seolah-seolah menggarisbawahi bahwa seperti gurunya, si murid juga perlu diawasi selekat mungkin. Mengapa demikian?

Dalam buku ini, George menaksir harta kekayaan Soeharto dan keluarga kurang lebih sebesar US$ 40 milyar (dengan kurs pada waktu itu sebesar Rp 7.000 per dolar berarti angkanya mendekati Rp 280 trilyun). Itu baru kekayaan guru-nya, bagaimana dengan kekayaan murid-nya?

Dalam kesimpulan buku itu, George menulis sebagai berikut:

“Dari semua contoh korupsi, kolusi, dan nepotisme keluarga besar Habibie dan Suharto, dapat kita simpulkan bahwa Habibie memang murid “SGS” (Super Genius Suharto) yang pintar. Atau bahkan lebih pintar dari gurunya.

Seperti bunyi peribahasa, guru kencing berdiri, murid kencing berlari, B.J. Habibie telah mengembangkan “ajaran” gurunya untuk mengembangkan perusahaan-perusahaan keluarga Habibie, dengan memanfaatkan setiap kesempatan dalam kesempitan. Karuan saja ia tidak ingin masa lalu Suharto diungkit-ungkit, sebab itulah masa lalu dia juga.

Hubungan bisnis antara keluarga Suharto dengan keluarga Habibie, pada mulanya seperti kuali dan tutupnya. Sebagai kuali, keluarga Suharto lebih banyak “isinya”, sementara tutup kuali, hanya terkena uap dan bau-baunya. Tapi berkat kepercayaan berlebihan yang diberikan Suharto kepada Habibie, dengan jabatan sebagai Menteri Riset & Teknologi, Kepala BPIS yang membawahi sepuluh industri strategis, Kepala Otorita Batam, Kepala Tim
Pelaksana Mega Proyek Natuna, Kepala Mega Proyek Industrialisasi Pulau Madura, Kepala Mega Proyek Mamberamo di Irian Jaya, kemudian Ketua ICMI dengan segala yayasan dan badan usahanya, Habibie jelas bukan tutup kuali lagi.

Habibie sudah berkembang menjadi kuali sendiri, dengan keluarga besarnya sendiri yang dengan sendirinya juga menuntut pembagian rezeki, seperti yang dicontohkan keluarga besar Suharto, dan dengan ekspansinya sendiri ke mancanegara. Hampir semua adik dan kakaknya punya perusahaan keluarga yang ikut menyusu ke puting-puting susu yang dikuasai oleh Habibie dengan sekian banyak jabatan formalnya. Hanya saja, yang disusui ini bukan kekayaan pribadi Habibie, melainkan uang rakyat yang dititipkan pada Habibie, yang
kemudian dihambur-hamburkan ke mana-mana, tanpa persetujuan DPR, tanpa persetujuan Menteri Keuangan, bahkan kadang-kadang tanpa persetujuan Angkatan-Angkatan, melainkan hanya dengan restu Suharto, ayah angkat dan guru politiknya.”

Dulu aku sering berkirim kabar dengan GJA ini dan sepertinya sempat dua kali ketemu muka. Yang dibicarakan kalau tidak soal-soal kemasyarakatan seperti korupsi ini atau topik yang sangat hangat waktu itu yakni soal Timor Lorosae. Aku suka membaca tulisan-tulisannya yang penuh data dan cukup sosiologis, maka tak heran buku ini begitu terbit, langsung segera dibaca.

Kritik memang berdatangan atas buku ini, tapi sekali lagi kehadiran buku ini cukup memberi gambaran cukup luas kepada orang banyak, seberapa besar “gurita ekonomi” yang dipegang oleh keluarga “si guru dan murid” ini.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s