Memahami Filosofi Mbecak

Waton Urip
Karya Sindhunata, Agus Leonardus, dan Ong Hari Wahyu

Terbit November 2005 oleh NineArt Publishing, Yogya | Binding: Art Paper | ISBN: – | Halaman: 144

SETIAP kali pulang ke Yogya, aku selalu sengaja naik becak. Iya, becak yang asal katanya berasal dari bahasa Hokkien: be chia yang artinya “kereta kuda”. Alasan kenapa aku repot mencari alat transportasi tanpa polusi itu karena becak sudah tidak ada lagi di kota sebesar Jakarta. Mungkin ada di pinggiran atau di kota satelit, tetapi pasti tidak ada lagi di jalan-jalan raya. Saat naik becak, jarang kupikirkan bahwa naik becak adalah sebuah penindasan. Naik becak ya naik becak, ada interaksi antara yang menumpang dan yang mengendarai. Ada kegembiraan dalam setiap genjotan baik di diri abang becak maupun padaku. Malah kalau dipikir-pikir, nasibku justru ada di kuasa tangan dan kaki abang becak yang membawaku ke tempat tujuan.

Sesekali kusenandungkan lagu riang “Naik Becak” karya Ibu Soed yang liriknya begini:
saya mau tamasya
berkeliling keliling kota
hendak melihat-lihat keramaian yang ada
saya panggilkan becak
kereta tak berkuda
becak, becak, coba bawa saya

saya duduk sendiri sambil mengangkat kaki
melihat dengan asyik
ke kanan dan ke kiri
lihat becakku lari
bagaikan tak berhenti
becak, becak, jalan hati-hati

Rupa-rupanya, aku bukan satu-satunya penggila becak. Adalah Sindhunata, Agus Leonardus, dan Ong Hari Wahyu secara serius melakukan perekaman gambar, pengamatan sosio-ekonomis, hingga mencari makna filosofis dari keberadaan becak. Hasilnya mereka tuangkan dalam buku [Waton Urip ini.

“Mbecak” atau mengayuh becak menurut pendapat Sindhunata, disadari oleh para pengayuhnya bahwa bukanlah jalan menjadi kaya. Tetapi “mbecak” berarti rezekinya selalu mengalir tak putus-putus karena menganut “waton urip” yang janganlah diartikan semata “asal hidup” tapi “hidup tanpa memberontak terhadap hidup”. Tukang becak, seperti pendapat Sindhunata, mengajarkan kita untuk menerima apa yang diberikan oleh kehidupan, tapi jangan meminta apa yang tak diberikan oleh kehidupan. Sebuah filosofi sederhana, bukan bermakna pasrah, karena konsep “nrimo” sebenarnya mengandung energi perjuangan bagi orang yang mengerti betul makna dan falsafahnya.

Mereka berjuang di tengah kerasnya hidup, kemiskinan yang melingkupinya, bahkan berani hidup tanpa memberontak pada kehidupan. Strateginya adalah memaksimalkan kekuatan-kekuatan unik seperti solidaritas sosial, keberanian, keuletan, integritas, kebaikan hati, pengendalian diri, dan rendah hati. Inilah rupanya yang mampu membuat tukang becak Yogya meloloskan diri dari kekejaman dunia.

Coba contoh pola pikir Bu Ponirah. Ia salah seorang penarik becak perempuan. Di sini, ia bercerita tentang kegiatannya di waktu senggang, menonton sinetron.

“Saya ini orang miskin. Sudah miskin, mengapa harus nyetel yang susah-susah. Nanti malah tambah susah. Karena itu saya nyetel yang enak-enak dan senang-senang saja. Apa dengan menyetel pemandangan dan kehidupan yang kaya itu, Ponirah juga ingin kaya? Dari mana saya bisa? Bagi saya, kaya itu ya kalau saya tidak punya utang lagi. Tapi kapan?”

Bu Ponirah memberikan cermin sosial padaku, yang belakangan ini baru mengerti tabiat dan alasan orang-orang menceburkan diri pada tontonan sinetron. Sebagaimana kutipan-kutipan berikut ini juga ikut menambah pokok permenungan bagiku, karena para tukang becak pun ternyata memiliki pemikiran dan pedoman tersendiri yang tidak kalah dari filuf-filsuf tekenal. Mereka adalah Plato atau Descartes bagi diri mereka sendiri.

“Pokoke, nek dadi tukang becak niku ampun nggrangsang (Pokoknya, kalau jadi tukang becak itu, jangan serakah),” kata Paidi, tukang becak yang pakaiannya selalu rapih.

Bukankah keserakahan itu sumber dari degradasi kemanusiaan manusia? Lebih lanjut bagaimana menyikapi rasa serakah itu, Pak Kliwon tukang becak yang lain menambahkan dengan kalimatnya sendiri.

“Kalau kurang, siapapun selalu kurang. Orang kaya juga selalu kurang, dan dalam hal kekurangan, jangan kita membandingkan dengan mereka yang kelebihan. Tengoklah ke bawah, jangan ke atas. Di bawah kita juga banyak wong kere yang lebih tidak enak daripada kita. Mereka belum tentu bisa makan seperti kita. Maka syukur sebagai tukang becak pun, kita masih bisa makan”

Luar biasa bukan yang dapat kita pelajari dari becak?

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s