Benarkah Stardust adalah novel prekuel?

Serbuk Bintang (Stardust)
Karya Neil Gaiman

Terbit Februari 2007 oleh PT Gramedia Pustaka Utama | Binding: Paperback | ISBN: 9792226885 (isbn13: 9789792226881) | Halaman: 256

Penerjemah: Femmy Syahrani


DALAM salah satu wawancara, Neil Gaiman pernah berujar bahwa Stardust adalah novel prekuel dari sebuah cerita yang mungkin tidak akan pernah dituliskannya. Oya? Sebuah prekuel? Wah… setelah selesai membacanya aku pikir Neil Gaiman perlu berpikir ulang untuk menuliskan kelanjutannya. Entahlah, mungkin dengan melanjutkan kisah-kisah fantastis Tristan Thorn dan Yvaine berikutnya…

Sebelum berandai-andai lebih jauh, ada baiknya kembali ke niat awal untuk menuliskan review sederhana tentang novel fantasi ini. Akhir era Victorian, yang menjadi setting dalam novel ini dikenal kental dengan kisah-kisah paganisme, sihir, dan misteri. Pada masa-masa ini mitologi Yunani dituliskan kembali dengan semangat baru: Apollo, Athena, bahkan Zeus hingga Demeter, Dionisus, dan Eros diberi “badan” baru yang lebih cocok untuk masa pemerintahan Inggris di masa itu yang sedang gamang diterpa Revolusi Industri. Rakyat Inggris memerlukan suatu gerakan spiritual yang menjadi penyeimbang perubahan jaman. Maka dongeng tentang titisan bintang jatuh yang awalnya adalah kalung kerajaan Stormhold menjadi manusia secantik Yvaine diletakkan dalam konteks waktu seperti ini, sebagaimana yang ditulis Neil Gaiman, cukup dapat dimengerti — meskipun Neil Gaiman menuliskannya 100 tahun kemudian.

Paganisme, sihir dan misteri ini membalut kisahan fantasi Stardust yang berporos pada hidup Tristan Thorn, pemuda lugu anak Dunstan dan seorang gipsy yang melayani seorang penyihir jahat. Tristan yang naif menyatakan sebuah “dusta” bahwa ia akan rela pergi ke seberang lautan untuk bisa meluluhkan hati gadis bernama Victoria dengan mengambil sebuah bintang jauh sebagai bukti cintanya. Sebuah “dusta” yang harus dia bayar mahal dengan menyeberangi perbatasan Desa Tembok dengan dunia yang begitu baru baginya (dan bagi pembaca).

Bagaimana tidak? Di dunia yang mirip dunia Peter Pan itu, bertaburan banyak makhluk yang memiliki kekuatan sihir, seperti pohon yang bisa bicara dan berpindah tempat, kuda bertanduk (unicorn) dan tentu saja nenek sihir dan peri. Bahkan ada kapal yang berlayar di angkasa juga dengan seorang kapten kapal bernama Shakespeare. Dimabuk oleh cinta dan pembuktian cintanya dengan memboyong bintang jantung itu pada Victoria, Tristan bertemu makhluk cebol berbulu bertopi lebar yang pernah ditolong ayahnya yang dulu pernah menyebrang juga. Dan Tristan terkejut saat menemukan sang bintang jatuh yang ternyata Yvaine, gadis cantik yang galak.

Cerita makin tajam karena tanpa setahu Tristran dan Yvaine, ada banyak pihak yang memburu Yvaine. Mulai dari tiga pangeran kejam dan licik dari Stormhold, lalu ada ratu penyihir yang sepuluh kali lipat lebih kejam dan lebih licik dari tiga pangeran itu. Ia bertekad mendapatkan jantung sang bintang jatuh untuk bisa mendapatkan kemudaan bagi dirinya dan dua adiknya. Cerita selanjutnya apakah Tristan dan Yvaine dapat lolos dari pihak yang memburu dapat dibaca sendiri.

Satu hal yang pasti, tuturan cerita ini sederhana dan tidak rumit, yang setelah dikatakan bahwa ini adalah sebuah prekuel, tentulah akhirnya dapat dimengerti. Sebuah prekuel tidak pernah rumit. Cerita rumit sesungguhnya baru akan datang kemudian. Aku pikir ini layak untuk dinantikan seperti halnya dulu George Lucas menyajikan cerita Starwars yang luar biasa.

Yang pasti juga, cerita fantasi ini membuat aku berpikir ulang tentang karakter-karakter dongeng yang ada selama ini dan juga bertanya-tanya apakah Neil Gaiman sedang melakukan pemberian “badan” baru yang lebih cocok untuk semua dongeng-dongeng yang pernah kita dengar selama ini? Karena aku temukan pola-pola yang kurang lebih sama pada karya-karya fantasi Neil Gaiman yang lain. Bahkan boleh dibilang, pada karya penulis fantasi lainnya. Tetapi sungguhpun demikian, pemberian “badan” baru ini tidak aku sanggah amatlah pintar dan menarik penyajiannya.

Ada catatan lain yang perlu ditambahkan. Rupa-rupanya pencantuman keterangan bahwa Stardust adalah “dongeng untuk orang dewasa” adalah sesuatu yang cukup serius ditanggapi. Aku baca wawancara Neil Gaiman dengan CNN Interactive yang termuat dalam artikel “Adults deserve good fairy tales, too “ dan Neil Gaiman cukup serius waktu mengatakan hal ini: “As adults, we are discriminated against. As adults, we are an oppressed majority because nobody writes us fairy tales. I think the problem is not that … we grow out of fairy tales. The problem is nobody writes us fairy tales; nobody gives us fairy tales that are as satisfying, as meaty, as filled with real people and real incident, as the things that we remember from when we were children.”

Lebih lanjut dalam wawancara itu, Neil Gaiman berbicara tentang kekuatan imajinasi. Semakin imajinasi digunakan, maka semakin hebatlah imajinasi yang muncul. Ia bahkan berujar bahwa imajinasi itu semacam “otot” yang bila tidak dilatih, dia akan kendur dan hilang. Maka itulah keuntungan cerita-cerita fantasi, karena ia membuat pembaca berimajinasi. Jadi siapa bilang orang dewasa tidak boleh membaca novel fantasi dan berimajinasi?

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s