Cinta dan kebaikan di Amerika pasca kiamat

The Road (Jalan)
Karya Cormac McCarthy

Terbit 2009 oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Paperback | ISBN: 9789792243 | Halaman: 260

Penerjemah: Sonya Sondakh. Penyunting: Sapardi Djoko Damono

SEBERAPA banyakkah dunia ini memiliki cinta dan kebaikan? Siapakah yang memilikinya? Akankah cinta dan kebaikan kalah ketika harapan hampir-hampir sirna dari muka bumi? Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche pernah menuliskan jawaban demikian atas pertanyaan tadi: “Tak ada cukup banyak cinta dan kebaikan di dunia ini yang mengizinkan sedikitpun darinya pergi dari setiap insan.” Itu berarti, jumlah cinta dan kebaikan hanya ada sejumput di dalam hati manusia, sisanya mungkin yang disebut dengan ‘kebinatangan’ kita. Pertanyaan yang sama, juga hendak dijawab oleh Cormac McCarthy lewat novelnya berjudul “The Road”.

Diterjemahkan ke dalam edisi bahasa Indonesia menjadi “Jalan” oleh Gramedia Pustaka Utama 2009, novel pemenang Pulitzer Price for Fiction 2007 berisi epik tentang kehancuran dunia lewat penceritaan perjalanan berbulan-bulan seorang ayah dan anaknya melewati dunia Amerika yang telah hangus terbakar. Tak ada yang tertinggal di atas bumi, selain debu-debu sisa kebakaran: pohon mati menghitam, rumah terbakar, mayat-mayat, puing-puing sisa bangunan. Dinginnya malam saat itu sanggup meremukkan bebatuan. Debu terus turun, bahkan salju pun berwarna abu-abu. Mereka menuju ke pantai di daerah selatan, meskipun mereka tidak tahu apa yang menanti mereka di sana. Mereka tidak punya apa-apa, hanya sepucuk pistol untuk melindungi diri dari serangan orang-orang barbar, pakaian mereka hanya yang melekat saja, dan kereta dorong yang berisi makanan yang berhasil mereka pungut di sepanjang perjalanan: apel kering yang hampir busuk, buah dalam kaleng di dalam bunker, atau kadang-kadang sekedar selimut atau terpal untuk melawan dingin malam dan hujan. Mereka makan, tapi lebih sering kelaparan. Dalam keadaan dimana harapan tempat yang lebih baik tidak ada, selain kehancuran total dan kebengisan mereka yang masih hidup, ayah dan anak itu mencoba bertahan dengan saling mengandalkan satu sama lain dengan cinta. Lewat dialog di antara mereka berdua, drama sesungguhnya dibangun.

Papa punya teman?
Ya. Punya.
Banyak?
Ya.
Papa ingat mereka?
Ya. Aku ingat mereka.
Apa yang terjadi pada mereka?
Mereka mati.
Semuanya?
Ya. Semuanya.
Papa merindukan mereka?
Ya. Rindu.
Ke mana kita?
Ke selatan.
Oke.

Hampir setiap malam, sang ayah selalu batuk-batuk tanpa henti dan ia tahu bahwa ia sedang sekarat menuju ajal. Sedang anaknya yang masih terlalu kecil itu, masih polos murni, hanya dapat mengenang bumi yang indah dan didiami oleh orang-orang baik melalui cerita ayahnya karena apa yang ia lihat setiap hari bertolak belakang semuanya. Sang ayah berjuang untuk melindungi anaknya dari ancaman dan kelaparan. Begitu cintanya pada sang anak, sampai-sampai pistolnya berisi dua peluru yang digunakan untuk bunuh diri bila perlu, takut-takut mereka malah ditangkap dan dimakan oleh para kanibal yang juga berkeliaran karena tidak adanya makanan lain. Menghadapi semua tantangan ini, ayah dan anak itu benar-benar hanya bisa mengandalkan satu sama lain. Si ayah selalu melindungi dan si anak selalu harus percaya pada ayahnya. Dalam cerita itu, pembaca akan berulangkali membaca obrolan tentang “membawa api”. Misalnya ketika mereka baru saja lolos dari rumah para kanibal, sang anak bertanya pada ayahnya.

Kita tidak akan makan orang kan?
Tidak. Tentu saja tidak.
Bahkan ketika kita kelaparan?
Kita kelaparan sekarang.
Kamu bilang kita tidak.
Aku bilang kita tidak sekarat. Aku tidak bilang kita tidak kelaparan.
Tapi kita tidak akan.
Tidak. Kita tidak akan.
Apapun yang terjadi.
Tidak. Apapun yang terjadi.
Karena kita orang baik.
Ya.
Dan kita membawa api.
Dan kita membawa api, benar.
Oke.

Atau ketika ayah meminta si anak untuk berani ditinggal sendirian, sementara sang ayah harus pergi memeriksa keadaan sekeliling.

Kamu tidak bisa. Kamu harus membawa api.
Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.
Iya kamu tahu.
Apakah itu nyata? Api itu?
Ya, sungguh.
Dimanakah api itu? Aku tidak tahu dimana.
Tentu kamu tahu. Ia ada di dalam dirimu. Ia selalu ada di sana. Aku tahu itu.

“Membawa api” dalam cerita ini berarti menggelorakan harapan, meskipun harapan itu sendiri begitu tipis di hadapan dunia yang dilukiskan Cormac McCarthy sebagai dunia ketika “pembunuhan terjadi dimana saja di atas bumi” dan “didiami oleh orang-orang yang tega memakan anaknya sendiri di depan matamu”. Dunia yang mereka hadapi adalah neraka dan kita dapat membaca apakah yang akan dilakukan orang pada situasi seperti ini. Apakah masih ada harapan untuk menyelamatkan peradaban manusia? Pertanyaan-pertanyaan ini yang selalu menyertai kita sampai ke akhir cerita karena hanya dengan tetap menanam harapan, kita akan selamat, begitu kira-kira pesan novel ini.

Lewat novel ini, dan terlebih lewat tokoh “ayah”, Cormac McCarthy menawarkan suatu konsep filosofis tentang apa yang baik dan jahat. Saat tidak ada yang namanya abu-abu. Saat “yang baik” digambarkan oleh mereka yang bertahan untuk tidak makan sesamanya dan tetap menjaga harapan akan kehidupan yang lebih baik. Baik atau jahat digambarkan begitu jelas, bahkan digambarkan lewat cerita ketika bertemu dengan seorang pria tua buta bernama Ely, ayah sampai-sampai berkata dirinya adalah dewa, yang menjaga kebenaran di dunia yang sedang sekarat. Dan si ayah sedang menjalankan misi, untuk menemukan orang-orang baik lainnya, semoga masih saja ada, karena ia percaya bahwa anak itu spesial. Sungguh anak itu benar-benar generasi kemanusiaan selanjutnya.

Ia telah berhasil menjadikan tokoh “ayah” sebagai semua orang dengan harapan semua orang terus menghidupkan harapan menghadapi dunia yang makin sekarat. Novel yang disebut sebagai salah satu dari 50 karya novel ekologis dunia ini rasa-rasanya memberikan asupan nilai yang begitu penting pada semua kita yang kini begitu entengnya menyikapi kehancuran ekologis di sekitar kita.

Beberapa catatan perlu diberikan untuk novel ini: Pertama, inspirasi novel yang luar biasa ini disebut Cormac McCarthy muncul saat ia pergi bersama anaknya ke El Paso, Texas tahun 2003. Saat itu ia membayangkan “kebakaran di bukit” dan memikirkan nasib anaknya kelak bila terjadi. Itulah yang menyebabkan nama anaknya, John Francis McCarthy, tercantum di lembar dedikasi. Setelah memenangkan banyak penghargaan, sebuah film adaptasi novel ini sedang masuk tahap pasca-produksi, dibesut oleh sutradara John Hillcoat dan nantinya diperankan oleh Viggo Mortensne dan Kodi Smit-McPhee.

Kedua, meskipun dapat dimengerti, namun boleh disayangkan bahwa proses penerjemahan novel yang disebut-sebut sebagai novel yang tidak mengindahkan penulisan tanda baca dalam bahasa Inggris ini tidak bisa menghadirkan gaya bahasa yang indah dan penulisan gaya Cormac McCarthy yang asli. Proses penerjemahan novel ini oleh Sonya Sondakh dan disunting oleh sastrawan Sapardi Djoko Damono ini tidak bisa menyalin hal-hal semacam ini:

They looked at each other.
One more.
I dont want you to get sick.
I wont get sick.
You havent eaten in a long time.
I know.
Okay.

L
ihat bagaimana absennya tanda baca di dalam dialog tadi. Yang terlewatkan juga dari proses penerjemahan adalah hilangnya sejumlah kosa kata yang jarang sekali digunakan dalam bahasa Inggris, semacam gryke, gambreled, laved, soffits, gelid, bivouack. Keindahan yang hanya bisa dirasakan dalam novel aslinya. Ada juga cacat dalam penerjemahan zombie yang ditulis dengan zombe. Namun secara utuh, novel ini sungguh layak mendapatkan perhatian kita.

5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s