Ketika “Bermain-Main” Jadi Kehidupan

Drunken Monster
Karya Pidi Baiq

Terbit 2008 oleh Dar! Mizan | Binding: Paperback | ISBN: – (isbn13: 9789797528324) | Halaman: 204

PERTAMA-TAMA harus dijawab bahwa buku ini tidak terlalu berbahaya. Tidak seperti yang ditulis di sampulnya oleh Prof. Dr. Bambang Sugiharto. Dia tidak menggigit, tidak menggoyahkan iman, tidak mengandung melamine, dan tidak ada unsur-unsur kriminalitas atau upaya-upaya menggelorakan revolusi. Jadi aman untuk dikonsumsi, meskipun tanpa label halal dari MUI. Kedua, Pidi Baiq itu benar-benar orang baik yang terlalu baik membagikan catatan kebaikan hatinya yang super baik. Ketiga, jangan coba-coba membaca buku ini dari sampul belakang ke depan karena kalau dibaca dengan cara itu kamu nggak akan ngerti artinya. Keempat, kalau kurang jelas atau kurang sreg, silakan kembali ke poin pertama.

Ini pertama kalinya baca buku yang beginian. Pokoknya yang merekomendasikan buku ini tahu bahwa orang seperti aku justru sasaran yang pas buat baca buku beginian: buat obat stres dan obat penenang bahwa di luar sana ada orang yang lebih gila daripada diri sendiri. Orang yang lebih “bermain-main” dengan kehidupan, seolah memang demikian hidup itu harus diisi.

Mengingat kata bermain-main, jadilah aku ingat “Homo ludens” atawa manusia yang bermain. Demikian Johan Huizinga seorang ahli pikir dan filsafat Belanda menulis tentang pentingnya elemen “bermain-main” dalam kebudayaan dan masyarakat. Huizinga menjelaskan teori “permainan” atas konseptual dari suatu kebutuhan utama dan kondisi yang penting (meskipun bukan cukup) bagi generasi kebudayaan. Elemen utama dari “permainan” adalah kegembiraan. Jadi beginilah aku pandang kehidupan yang dijalani Pidi Baiq, pengembaraan permainan pikiran atau kata-kata yang ia lontarkan pada dunia di sekelilingnya, umumnya yang ia arahkan pada orang-orang kecil, barangkali di dalam kepalanya ada pemikiran bahwa orang-orang kecil inilah yang kurang bermain-main artinya kurang kegembiraan, makanya ia dengan aktif melakukan dekonstruksi atas segala apapun yang normatif.

Misalnya, waktu ia pergi bersama 10 orang temannya ke kolam air panas di Lembang. Dengan aktif, ia bermain-main dengan normatif bahwa hanya orang normal yang boleh berendam air panas. Maka ia bilang kepada satpam dan penjaga tiket bahwa ia membawa 10 orang sakit jiwa dan mereka itu rombongan pertama dari sekian bis yang akan datang ke sana dengan jumlah total 150. Pak satpam dan penjual tiket yang normatif (mungkin karena ketidaktahuan mereka) gelagapan. Contoh lain, waktu Pidi Baiq meninggalkan mobilnya, lalu naik ojek dengan alasan mencari dukun untuk nyegig. Ujung kegembiraan selalu dibungkus dengan pemberian uang, biasanya 50 ribu rupiah. Atau misalnya waktu Pidi Baiq mencantumkan pelbagai obrolannya dengan Dayat. Aih, aih kang Dayat yang polos dan lugu. Jadilah selalu digembirakan oleh Pidi Baiq ini.

Kembali ke Huizinga. Ia mengidentifikasikan 3 karakteristik “permainan yang harus ada:
1. Permainan itu bebas. Pidi mencontohkannya dengan banyak cara. Ia bisa bebas melakukan permainannya itu di kompleks rumahnya, di stasiun, di kantornya, di pinggir jalan.
2. Permainan itu tidak “umum” atau tidak nyata. Penjelasan Huizinga ini paling pas untuk menjelaskan perilaku Pidi yang tidak umum. Misalkan ia minta dua orang penjaga di kompleksnya untuk membantunya menyetem gitar dengan “mengetok2” tiang listrik. Aya aya wae aa pidi.
3. Permainan ini berbeda dari kehidupan nyata. Jelas, apa yang dilakukan Pidi merupakan satu hari yang tak terduga bagi mereka yang menemuinya.

Lalu bagaimana kita yang sehari-hari ini dibentuk oleh kotak-kotak rutinitas agar tidak lupa bermain-main? Barangkali aku sarankan sempatkan diri untuk keluar dari rutinitas itu, bergabunglah dengan teman-teman untuk sekedar makan siang atau mengobrol, ngebanyol dengan segala macam hal, untuk sekedar “bermain-main” dan tidak melulu serius. Mungkin dengan cara itu bolehlah kita sedikit meniru Pidi, meskipun yakin tidak mungkin 100% bisa sedemikian gelo. Ya kan?

Ditutup dengan ini aja deh, kutipan dari Lucian Blaga yang judulnya “3 Faces”:

“The child is laughing: The Game is my wisdom and my love
The young is singing: The Love is my wisdom and my game
The old is silent: The Wisdom is my love and my game”

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s