‘Quentin Tarantino’-nya Novel Fantasi

The Book of Lost Thing (Kitab Tentang Yang Telah Hilang)
Karya John Connolly

Terbit Agustus 2008 (terbit pertama 2006) oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Paperback | ISBN: 9792238794 (isbn13: 9789792238792) | Halaman: 472

Diterjemahkan oleh Tanti Lesmana

ENTAH apa yang merasuki John Connoly waktu menulis novel ketujuhnya ini, ia seperti keluar dari jalur thriller dan kriminal-nya. Tapi buatku tak soal karena dengan karya ini, bolehlah kita sebut John Connolly adalah ‘Quentin Tarantino’-nya novel fantasi. Mengapa demikian? Ingat adegan besutan Quentin yang berjudul “Kill Bill” yang diperankan Uma Thurman, ingat adegan demi adegan upaya The Bride aka Black Mamba mencari pembunuhnya yang tergabung dalam Deadly Viper Assassination Squad suruhan Bill? Ada darah dimana-mana. Tepat. Begitulah dalam banyak bagian buku ketujuh karangan John Connolly ini, darah seolah bagian yang tak terpisahkan dari kisah sang tokoh utama, menetes-netes pada lembar-lembarannya, kisahan yang berpusat pada David, anak sebelas tahun yang ditinggal mati ibunya dan harus hidup dengan ibu tiri dan adik tiri Georgie yang membuatnya iri. Namun kisah-kisah berdarah itu bukan terjadi di alam nyatanya: bukan pada Rose ibu tirinya atau Georgie adik tirinya. Semua terjadi di dunia paralel David yang letaknya ada celah dinding di kebun cekung di belakang rumah.

Meskipun disebut paralel, sebenarnya dunia di seberang itu memiliki tatanan sendiri yang berbeda dengan dunia nyata David yang saat itu tinggal di London yang sedang dilanda Perang Dunia II. Di dunia seberang itu, berlaku tatanan bahwa imajinasi bisa tumbuh sedemikian liarnya bahkan mimpi buruk sekalipun mewujud menjadi nyata.

Di dunia lain inilah, alusi-alusi bertebaran demikian banyak. Mulai dari alusi Snow White yang diceritakan tidak cantik, boro-boro langsing, dan baik hati, alusi 7 Kurcaci yang ternyata jago berslogan ala teman-teman perburuhan, Tudung Merah yang bukan lagi si gadis baik yang membawakan buah bagi nenek, tetapi justru yang melahirkan kaum Loup dan serigala, bahkan alusi Rumpelstiltskin yang kemudian diubah John Connoly menjadi Mahluk Bungkuk (The Crooked Man) yang menjadi protagonis dari David karena dialah yang akhirnya ingin menguasai David.

Dan dengan gemilang, David dibuat John Connoly tumbuh dari anak yang ‘naif’ dan ‘pendek pikir’ menjadi ksatria berpedang yang bisa membunuh, bahkan mengatasi musuh terbesar dalam hidupnya: rasa takutnya sendiri. Dan amat menarik ketika David dikontraskan dengan Raja Jonathan Tulvey, yang ketika masuk ke dunia itu juga masih anak-anak tetapi ia justru tidak belajar banyak dari pengalamannya tapi justru terbenam makin jauh dalam cemburunya pada adik tirinya Anna.

Biarpun buku ini menghabiskan waktu dua bulan untuk dibaca, tapi aku tidak merasa dua bulan ini merupakan dua bulan yang penuh kesia-siaan. Buku ini memberi banyak pelajaran, meski untuk mempelajarinya, ada banyak darah yang berceceran.

Penasaran bila nanti novel ini jadi difilmkan oleh sutradara John Moore apakah akan tetap sedemikian penuh kekelaman seperti ini atau tidak. Mungkin harus dipasang plang besar-besar di poster film soal darah bercipratan ini. Layak ditunggu kehadirannya di bioskop.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s