Puisi yang dimaksudkan untuk tidak gampang dimengerti? Masa ada?

Jantung Lebah Ratu: Himpunan Puisi
Karya Nirwan Dewanto

Terbit 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Paperback | ISBN: – (isbn13: 9789792236668) | Halaman: 92 | Penghargaan: Khatulistiwa Award 2008 kategori Puisi

KALAU ditanya apa pendapatku atas buku puisi ini? Aku akan berkata lantang

“Lihat, betapa cerdas puisi-puisi ini! Nggak gampang dimengerti lho!”

Barangkali begitu yang akan kukatakan pada teman yang sungguh-sungguh berminat membaca buku ini. Puisi-puisi Nirwan Dewanto ini seperti menjulang megah justru minta dimengerti oleh khalayak pembacanya dan bukan sebaliknya. Jadi buatku tidak mengherankan sebetulnya bila aku sendiri yang membacanya seringkali mengernyitkan kening tak paham. Bahkan ada yang bilang puisinya “gelap dan sukar didekati.” Hey, tapi ternyata aku tak sendiri. Ya kan, teman-teman?

Puisi-puisi Nirwan dalam buku ini hadir dengan “aliens code” yang tampaknya menuntut pembaca untuk sungguh-sungguh berhasil menangkap substansi dari setiap ikon yang terpampang di dalamnya. Puisinya terlihat begitu samar dan tertutup sehingga untuk tahu makna dari sepotong puisi yang ditulis Nirwan, aku seolah harus membolak-balik buku-buku teori sastra atau meng-up grade pengetahuan dengan teori-teori baru hanya untuk memahami sekeping puisinya. Tapi hal itu tidak kulakukan… hanya untuk kepraktisan saja.

Daripada ribet, kubiarkan saja puisi-puisi Nirwan ini mengalir seperti sebuah buku yang penuh dengan kejelimetan bahasa. Yang kumengerti kucerna, yang tidak ya lewat saja. Kira-kira sebandinglah seperti duduk hadir di sebuah forum diskusi dengan panelis Romo Mudji Sutrisno yang entah bagaimana mencerocos menggunakan bahasa “langit” yang begitu memukau dan mengundang decak kagum sampai satu saat aku menyikut teman yang duduk di sebelahku yang tengah mengangguk-angguk seperti mengerti. “Kamu ngerti?” tanyaku, lalu dengan wajah cengengesan, “Jelas enggak! Tapi keren kan?!” Halah!

Maka jadilah puisi-puisi ini berbicara kepadaku sebagaimana sudah seharusnya. Ia menjadi alat yang dipergunakan penyairnya untuk menghamparkan fakta-fakta pemikiran dan perasaan atas realitas kehidupan yang ada di lingkungan sosial maupun kulturalnya. Soal kecerdasannya, siapapun tak dapat melepaskannya dari sosok si penulis sendiri. Nirwan Dewanto, teman-teman, adalah sebuah fenomena dalam dunia sastra kita. Performa intelektualnya begitu menonjol dan mampu memikat sejak kali pertama kehadiran sajaknya di “Dialog”, ruang budaya koran Berita Buana, yang di luar majalah sastra Horison menjadi forum sastra yang dilirik orang. Dan puisi-puisi yang ditulisnya dalam buku ini sudah mengisahkan tentang dirinya sendiri dan kita tinggal membacanya. Puisinya tidak berusaha keras untuk menyesuaikan dengan khalayaknya untuk “menyampaikan gagasan dan perasaan” karena inilah pesan pribadinya pada kita. Justru kitalah yang diminta untuk mengertinya. Kitalah pembaca yang diminta untuk berbuat, bertindak, berperilaku sesuai pesan yang disampaikan. Bila kita tidak mengerti berarti itulah cerminan dari diri kita sendiri yang membacanya, bukan dirinya.

Ia membiarkan pembacanya untuk terperangkap dalam ikon-ikon asing dan ganjil sehingga rasa-rasanya aku perlu memanggil bantuan seorang kritikus sastra untuk menjelaskan apa yang ingin dikomunikasikannya. Puisi-puisi Nirwan Dewanto bukan jenis puisi-puisi Joko Pinurbo yang tak berpretensi membuat pembaca mengerutkan kening kalau hanya untuk menangkap informasi yang disampaikannya. Seorang awam akan dengan mudah menangkap informasi dalam kumpulan puisi Celana meskipun seorang ahli sastra akan berusaha untuk menangkap hal yang lebih kaya dari substansi puisi-puisi dalam buku tersebut. Nah, kalau kita mengernyit waktu membaca Jantung Lebah Ratu ini, bergembiralah! Berarti kita sudah bertindak sesuai seperti yang Nirwan Dewanto harapkan… semoga.

Menghadapi puisi-puisi ini, aku jadi ingat seorang sastrawan Jerman bernama Walter Benjamin yang meyakini bahwa bahasa tidak sekadar ungkapan pikiran dan perasaan manusia, tetapi juga cara mengorganisasikan dunia. Karena puisi adalah bahasa penyair, maka puisi akan dimulai dengan pengorganisasian dunia kognitif si penyair, kemudian bergerak ke pengorganisasian dunia luar. Bentuk pengorganisasian dunia kognitif, terpampang dalam metafor-metafor yang digunakannya. Metafor-metafor cerdas dalam puisi-puisi di buku ini, tentulah harus ditangkap sebagai bagian upaya Nirwan membentuk osmosis dunianya.

Lihat bagaimana ia mengkomunikasikan apel dan gerabah, dalam dua puisi berikut:

APEL

Merah seperti tirai merah,
memar seperti payudaramu,
gundah seperti tirai Paskah,
sabar seperti langit biru,

ia berbaring di sisi sebatang lilin.

Di ujung makan malam, meja ini
mengecilkan ia, tapi sungguh si belati
kian silau oleh lengkung perutnya.
Mungkin sebentar lagi akan terluka,

ia berdiri di sisi sebatang lilin.

Seakan kusantap gaunmu panjang
untuk membuat ia telanjang.
Seakan kauasah jemariku pada nyala
untuk melindungi daging putihnya,

lebih putih daripada sebatang lilin.

(2006)

GERABAH

Ia ingat berbulir pasir
dan berhelai rambut perempuan
dan pecahan cangkang kerang
yang menyusup ke jasadnya
membuatnya selalu terjaga
di dasar bumi.
Ia tak ingat
mereka musuh atau sekutunya
ketika ia
membuka jalan

mencari ranah yang lebih lapang
lebih kerontang
agar ia boleh memaklumkan dirinya
sebagai segumpal–atau sebentang
atau sebayang?–
jasad lentur, tak terukur
oleh cermin yang dibawa
si mati ke hadapannya.
Ia ingat di ujung jalan itu
sepasang tangan jantan
mencoba mengasihinya
memilin-milinnya
mencari-cari jantungnya.
Ia tak ingat
ia girang atau sekarat
ketika disorong ke nyala api.
Ia tak ingat
ia keluar dari mimpi
atau masuk ke dalam mimpi
ketika harus memilih
ayam kinantan
atau dada perempuan
atau jambangan kembang
atau penjaga pintu gerbang
yang akan menjadi wujudnya
supaya ia tampak baka.
Sejak itulah ia ingat berbulir pasir
dan berhelai rambut perempuan
dan pecahan cangkang kerang
yang telah menghancurkan wajahnya
sehingga ia berani
menampik cermin yang diulurkan si mati
sehingga ia bisa telanjang sempurna:
jasad liat–
kepadanya segala jalan mendekat.
Ia ingat, hanya ingat.

(2005)

Yang pertama, “Apel” barangkali berangkat dari pengamatannya adanya sebuah apel yang ada di dekat sebatang lilin di meja rumahnya. Yang lalu ia kupas kulit merahnya dan dimakan dagingnya yang putih. Yang kedua, “Gerabah” merupakan cerita si gerabah akan proses pembuatannya. Rinci, kronologis, sekaligus penuh emosi. Dua puisi tadi masihlah dapat sedikit kupahami, apalagi bentuknya yang sempurna. Pendekatan cara menulis yang belum dijajaki penyair lain.

Tapi bagaimana mengerti yang ini? Dan mungkin puisi-puisi lain yang berserakan di dalam buku ini?

SEMU

Puisiku hijau
seperti kulit limau.
Kupaslah, kupaslah
dengan tangan yang lelah
temukan daging kata
bulat sempurna, merah jingga
terpiuh oleh laparmu.
Junjunglah urat kata dengan lidahmu
sampai menetes darah kata
manis atau masam
atau dendam yang lama terpendam
melukaimu ingin
kecuali jika
lidahmu hampa seperti angin.

Puisiku putih kabur
seperti cangkang telur.
Pecahkanlah, pecahkanlah
dengan tangan yang hampir kalah
temukan cairan kata
meradang, bening sempurna
tak berinti
mampu mengalir ke seluruh bumi.
Tapi kau mencari jantung kata
kuning yang kau anggap milikmu
dan pernah nyala di lidah ibumu.
Maafkan aku
tak bisa kuceritakan diriku:
dengarlah, cangkang telur atau kulit limau
hanya samaranku.
Aku sayap kata
terbang sendiri, birahi sendiri
hingga hancur aku
kau tak bisa menjangkauku
jika pun kau seluas langit lazuardi
tak bisa mengena
jika kau masih juga
separuh-membaca
separuh-buta.

(2005)

Apa maksudnya? Apa puisinya memang dimaksudkan tidak gampang dimengerti? Ya ampun! Mohon masukkanlah aku dalam golongan “tidak tahu puisi Nirwan Dewanto” agar hidup ini jadi seindah seperti sediakala.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s