PR-PR dalam Taxi Blues

Taxi Blues
Karya Erwin Prima Arya

Terbit September 2001 oleh Smart Reading | Binding: Art Paper | ISBN: 9793041001 | Halaman: 32

KOMIK grafis Taxi Blues ini memvisualkan salah satu cerpen dari antologi cerpen Seno Gumira Ajidarma Iblis Tak Pernah Mati (Galang Press, 1999). Dipindahkan ke medium grafis oleh seorang ilustrator, sekaligus animator film iklan dan juga seseorang yang melakukan remastered komik-komik Indonesia jadul seperti karya komikus Ganesh Th dan Zam Nuldyn. Dia adalah Erwin Prima (di Multiply & Goodreads juga ada kok…)

Bagaimana memahami komik grafis ini?

Ini adalah eksperimen saya dengan menggunakan gaya sketsa, dan panel-panel “widescreen”, biar seolah-olah pembaca sedang nonton film… (maunya)

Demikian tulis Erwin Prima di dalam blog multiplynya (http://erwinprima.multiply.com/photos/album/3/Taxi_Blues)

Eksperimen yang membuatnya mengambil cerpen SGA tentang perjalanan seorang sopir taksi di satu malam dan menjumpai macam-macam karakter penumpang, mulai dari perempuan seksi sampai tiga pembunuh bayaran berlatar politik.


::si perempuan::

::para penjahat::

Seperti cerpen aslinya, setting malam hari mendominasi seluruh cerita dengan pewarnaan remang kebiruan dengan mengali pewarnaan film Taxi Driver karya Martin Scorcese. Sulit menghapus semua keterpukauanku ini saat membaca seluruh keterangan di atas. Sampai akhirnya Sabtu lalu, tanggal 24 Januari 2009, aku dapatkan komik grafis ini dari Fiximix dan selesai membacanya aku duduk tertegun. Aku gusar. Aku justru makin gelisah setelah membaca “mission statement” Erwin akan karyanya.

Maaf, sebagai pembaca aku merasa gamang untuk menjawab apa yang barusan aku baca/tonton. Bila ini mau dianggap film, film ini menawarkan cerita apa? Apakah ia punya cerita sekuat film Taksi, garapan Arifin C. Noer pada tahun 1990 dengan cerita seorang perempuan bernama Desi (Meriam Belina) yang meninggalkan bayinya di dalam taksi milik Giyon (Rano Karno), tapi lalu memunculkan konflik saat Giyon disangka ayah gelap si bayi? Ataukah macam Taxi Driver dengan karakter Travis Bickle (De Niro) yang bekerja sebagai supir taksi tapi mengaku pada ortunya kalau dia masih meneruskan karir militernya di Secret Service dan pada akhirnya dia mulai menggilai Betsy (Cybill Shepherd).

Bila ingin dianggap sebagai film, komik grafis ini punya banyak PR. Dalam film pendek sekalipun, karakterisasi tokoh, plot, dan premisnya harus ada. Jangan hanya bermodalkan cerita lurus tentang seorang supir taksi di Jakarta yang sedang bertugas di malam yang diguyur hujan, lalu ketemu macam-macam orang. Supir taksi itu sebagai tokoh utama harus tegas benar wujudnya. Lazimnya oleh para penulis skenario, hal itu dirumuskan dengan apa yang paling diinginkan si supir taksi itu di dalam cerita, baru kemudian cerita bergulir menggambarkan bagaimana keinginan itu coba diwujudkan ke dalam kenyataan. Tidak boleh ia ditenggelamkan oleh tokoh-tokoh lain, yang menurutku dikerjakan dengan sangat detil oleh Erwin. Misalnya si perempuan, digambarkan begitu detil. Sementara para penjahat, digambarkan begitu sangar dengan mata berbinar, jauh melebihi gambaran si tokoh utama.

Sebaiknya juga Erwin tidak cuma mengambil bahan cerita dari cerpen SGA itu mentah-mentah, bahan itu harus digali, seperti halnya seorang sutradara mengerjakan tugas treatment cerita, selain tugas treatment kamera. Karena bagiku menjadi filmis bukan semata diwujudkan dalam panel layar lebar. Menjadi filmis artinya melengkapi PR-PR sebuah film, mulai dari struktur cerita, angle, dan lainnya. Pilihan Erwin untuk menggunakan widescreen panel mengundang pertanyaan lanjutan buatku: apakah semua yang diformat dalam panel layar lebar otomatis menjadi seperti film? Tentu tidak bukan?

Seandainya PR-PR ini dikerjakan lebih dulu, aku yakin apa yang ditawarkan Erwin dalam komik grafis ini akan menjawab apa yang ditulis Goto Prakosa sebagai endorsement di sampul belakang komik grafis ini: “pengaruh film yang dipakai memvisualisasikan Taxi Blues ini bisa dikembangkan sebagai sebuah fenomena perkembangan dunia komik di Indonesia”. Sekian tulisan dari pembaca yang gusar ini.

2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s