Jangan kecele dengan judul maupun sampulnya

Catatan Seorang Pejalan dari Hadrami
Karya Zeffry J. Alkatiri

Terbit 2004 oleh Komunitas Bambu | Binding: Paperback | ISBN: 9799620198 | Halaman: 88

DALAM deskripsi buku ini ditulis demikian: Buku ini merupakan kumpulan sajak yang bersifat epik tentang masyarakat Arab peranakan di Indonesia dari sudut pandang seorang Arab peranakan yang menjadi pemenang pertama sayembara puisi Dewan Kesenian Jakarta Tahun 1998-2002.

Tapi tidak ada satupun dari deskripsi buku aku temui di dalam kumpulan puisi ini. Mungkin mataku silap. Tapi masa begitu silapnya sampai tidak bisa menemukan epik seperti yang dituliskan dalam deskripsinya? Padahal terus terang judul buku ini yang membuatku tertarik untuk membacanya.

Catatan Seorang Pejalan dari Hadrami, demikian judul kumpulan puisi Zeffry J. Alkatiri ini. Hadrami adalah sebutan untuk masyarakat yang tinggal di lembah Hadramaut (Bahasa Arab: مشيخةحضرموت) di Yaman yang daerah yang kemudian dikenal dengan nama “Kota Seribu Wali”. Karena di depannya tertulis ‘catatan seorang pejalan’ maka kubayangkan bahwa di dalamnya akan ada semacam memoar yang ditulis dalam bentuk puisi. Pasti menarik, mengingat Hadramaut adalah asal-muasal berbagai koloni Arab yang menetap dan bercampur menjadi warganegara di Indonesia.

Berdasarkan keterangan yang aku dapatkan kedatangan koloni Arab dari Hadramaut ke Indonesia diperkirakan terjadi sejak abad pertengahan (abad ke-13) dan hampir semuanya adalah pria. Tujuan awal kedatangan mereka adalah untuk berdagang sekaligus berdakwah, dan kemudian berangsur-angsur mulai menetap dan berkeluarga dengan masyarakat setempat. Sampul buku ini menegaskan kisah tadi dengan mengambil lukisan dari Ernest Alfred Hardouin dalam Ritter’s Jawa yang melukiskan sosok pedagang dari Hadramaut ketika sampai di Jawa pada tahun 1850-an. Dan berdasarkan taksiran, jumlah mereka tidak kurang dari 70 ribu jiwa pada tahun itu, terdiri dari kurang lebih 200 marga seperti Alaydrous, Badjubier, Bawazier, Al Attas, Al Kathiri, Bin zagr, Sungkar,Al Habsyi, dan lain sebagainya.

Tapi lagi-lagi jangan kecele dengan judul maupun sampulnya. Karena di dalam isinya tidak ada apapun yang menjelaskan judul maupun sampulnya. Kalau begitu isinya apa? Isi di dalamnya terdiri dari dua bagian: Kata Pembuka dan Kata Penutup. Mengapa 2? Aku tidak tahu alasannya mengapa.

Yang pasti dari dua bagian, aku lebih banyak suka puisi-puisi yang ada di bagian “Kata Pembuka”. Puisi-puisinya sungguh gambaran sehari-hari tapi kental nilai agamisnya. Cuma satu kalimat lagi. Betul-betul tidak mau repot. Misalnya tiga puisi berikut ini.

TAHAJUD

Engkau kirimkan seekor nyamuk
Untuk membangunkan tidurku
Pada tengah malam

1990

THE FLYING CARPET

Sajadah yang sudah
semakin tipis ini
Masih belum mampu
menerbangkanku
Menuju
IstanaMu

1999

CUCI DARAH

Kucuci segenap darahku
dengan asmaMu
Berharap agar selalu bersih
Seperti kristal salju

1999

Sekedar usil, jangan-jangan diberi judul begitu gara-gara si penulis orang Indonesia keturunan Arab? Masa sih?

2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s