Terlalu masak digoreng

Cari Aku di Canti
Karya Wa Ode Wulan Ratna

Terbit Juni 2008 oleh Lingkar Pena | Binding: Paperback | ISBN: 9791367264 (isbn13: 9789791367264) | Halaman: 218

KUMPULAN cerpen Cari Aku di Canti (CADC) ini aku baca dua kali. Kali pertama, kubaca buku yang ternyata banyak halaman kosongnya. Kali kedua, sembari menunggu penukaran buku, Roos meminjamkan kumpulan cerpen Wulan ini. Ada untungnya ternyata baca dua kali. Baca pertama aku terlalu disilaukan oleh bahasa yang kaya muatan lokal, setting yang sungguhpun di Indonesia tapi terasa benar jaraknya dariku sebagai pembaca. Canti, dimana itu? Buton itu yang bagaimana sih? Suku Talang Mamak, ah yang mana ya? Sebagai pembaca, aku malu tidak tahu semua tempat itu. Dan aku berterima kasih kepada Wulan, si penulis cerpen ini, yang ibarat seorang antropolog membagikan catatan etnografis secara gratis plus dibumbui cerita ‘kasih tak sampai’ dan metafora yang riuh.

Namun keriuhan dan kekayaan itu tidak diperkaya oleh teknik dan ragam cerita. Aku hampir saja mengamini komentar pendek seorang teman di Goodreads yang mengatakan, CADC cuma berisi kisah-kisah patah hati. Hampir benar, tapi barangkali akan lebih tepat lagi bila dikatakan “terlalu masak digoreng dan bumbunya kebanyakan”. Lidah bacaku kelu gara-gara seliweran hibrida puisi yang mampir di setiap larik cerpen-cerpen Wulan untuk sekedar menyantap cerita ‘kasih tak sampai’.

Ada 2 cerpen yang membuatku terkesima dalam kumcer ini: “La Runduma” dan “Perempuan Nocturia”.

“La Runduma” aku sukai karena ternyata hari gini masih aktual ngomong soal pingitan adat dan persoalan virginitas. Adat dan keperawanan memang masih coba bertahan, tetapi sebenarnya posisinya makin lama terlemahkan. Bungkus cerita adalah soal kekecewaan Johra atas ketidakpercayaan ayahnya pada dirinya. Rasa kecewa yang pertama karena ayahnya tidak setuju pilihan cintanya pada La Runduma dan yang kedua karena ayahnya tidak percaya kalau ia masih perawan.

“Perempuan Nocturia” aku sukai karena pertentangan adat dan kemiskinan. Kemiskinan yang membuat seseorang sanggup mengkhianati sukunya sendiri dengan menebang hutan ulayat hanya karena ia miskin dan terbelit hutang sisa peninggalan ayahnya. Bungkusnya memang basi sih, soal kasih tak sampai pada Dini, si perempuan yang hobi pipis di hutan.

Mungkin kumpulan cerpen ini bukan jenis konsumsiku. Entahlah. Maaf Wulan Ratna, aku tak hendak menyusulmu ke Canti. Aku buta arah dan geografi

2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s