Riwehnya Catatan Tentang Masa Lalu Indonesia

Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia
karya Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto, Ratna Saptari (editor)

Terbit 2008 oleh Penerbit Yayasan Obor Indonesia, KITLV Jakarta & Pustaka Larasan | Binding: Paperback | Halaman: 446 | ISBN: – (isbn13: 9789794616482)

CUKUP sering bukan kita mendengar frase Alex Haley yang menulis “Sejarah adalah milik mereka yang menang (History is written by the winners)”? Hampir selalu malah kudengar ini di fora pembahasan mengenai sejarah. Historiografi Indonesia adalah salah satunya.

Sewaktu negeri ini masih berupa nusantara di masa kolonial Belanda, penulisan sejarah melulu hanya mengungkap Belanda sebagai pemeran penting sejarah di nusantara. Bahkan perspektif kemajuan bangsa Indonesia dipandang sebagai bagian dari “kebaikan hati” kaum liberal Belanda. Begitu tidak dipandangnya perjuangan rakyat melawan Belanda, membuat narasi penulisan sejarah kolonialisme hanya pendek, tidak sebanding dengan ratusan tahun usia penjajahannya. Begitu merdeka, di tahun 1950 buru-buru dituliskan berbagai perjuangan rakyat di seluruh nusantara, seolah-olah mereka berada dalam satu komando. Soekarno berada di balik upaya penulisan kemenangan perjuangan rakyat itu. Siapa pahlawan siapa bukan, ditentukan olehnya. Tan Malaka, Sultan Hamid II, dan lain-lain dimasukkan dalam jajaran mereka yang tidak punya peranan sejarah.

Cerita berlanjut. Soekarno digulingkan. A.H. Nasution dan Nugroho Notosusanto berada di balik penulisan gilang gemilang Soeharto. Tiba-tiba ia jadi tokoh penting di balik serangan di Yogya. Soeharto ada dimana-mana dan peran ormas-ormas lama dihapus digantikan narasi tentang partai baru pengusung Soeharto. Militerisasi sejarah begitu yang didengungkan di buku ini. Namun begitu Soeharto tumbang, buru-buru narasi penulisan sejarah yang terbungkam karena kalah memenuhi ruangan. Semua berebut menyatakan kebenaran. Kontestasi menuju siapa yang menang dan berhak menulis sejarah pasti seru untuk diamati.

Hilmar Farid misalnya, menulis tentang peranan Pramoedya dalam mendekonstruksi sejarah bangsa lewat novel-novelnya. Harry Poeze mengangkat persoalan lain yang semangatnya sama: menggugat sejarah yang sudah dituliskan saat ini. Atau kita sedang mengamini perkataan David McCullough untuk menjadi bangsa pelupa. “A nation that forgets its past can function no better than an individual with amnesia.”

5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s