Memparodikan Skenario Film


Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil
karya Isman H. Suryaman

Terbit Desember 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Softcover | Halaman: 144 | ISBN: – (isbn13: 9789792242195)

AKU nggak bohong dan nggak perlu dipaksa-paksa bilang kalau parodi skenario karya Isman H. Suryaman ini beneran menghibur. Kocak, mengundang senyumlah padahal aku nggak pernah kirim undangan sebelumnya. Senyum itu datang bagai tamu tak diundang deh.

Yang paling mengundang senyum adalah parodi skenario film Rambo. Mungkin untuk menambah unsur pembacaan jadi lebih mengena, aku sarankan skenario ini dibaca seperti proses “reading” di tahapan praproduksi film. Jadi ada yang membacakan bagian Rambo dan ada yang membacakan tokoh lain. Bila cukup imajinatif, ya buku ini tetap bisa dinikmati kok. Tapi selain lucu, ada semangat satir yang keras dalam cara Isman menyampaikan parodinya. Apakah sah?

Aku pikir sih, sah-sah saja. Parodi sejatinya adalah peniruan lucu atau satir atas sesuatu yang serius. Sesuatu itu dapat berupa karya sastra, tulisan, acara televisi, skenario, bahkan hidup sehari-haripun bisa diparodikan. Contohnya banyak bukan? Semalam aku lihat upaya Aming untuk memparodikan reality show “Termehek-mehek” dengan mengambil posisi sebagai Mandala dan mengganti nama acaranya menjadi “Termelet-melet”. Untuk melengkapi parodi, setiap kali Aming selesai bicara dia akan melet-melet.

Di dunia penulisan kreatif, parodi ini masuk dalam salah satu strategi menulis. Dan aku pikir cukup beralasan mengapa Isman H. Suryawan mengambil skenario sebagai bahan parodinya. Satu, emang paling enak bikin parodi. Nggak perlu repot-repot membangun visualisasi, karena tertolong bila orang-orang sudah tahu referensi yang diparodikan. Kedua, belum ada yang melirik untuk memparodikan skenario film padahal sumbernya ada di mana-mana. Bila teman-teman ingin mengunduh skenario film-film layar lebar luar dan kemudian ingin memparodikannya, tinggal buka http://www.script-o-rama.com

Beberapa hal yang jadi catatan untuk buku ini:
1. Meskipun eksplorasi yang berani, tapi perlu dipikirkan apakah orang-orang awam cukup mengenal format skenario film. Takutnya mereka tidak tahu dan tidak bisa menikmati cara membacanya. Tapi bila ingin mengadopsi benar-benar skenario film, inipun masih setengah-setengah karena tiba-tiba di skenario yang ditulis secara gokil ini tiba-tiba permainan tipografi jadi elemen penting. Atau tiba-tiba ada selipan gambar/foto.

2. Nafas satir ini belakangan hampir terasa seperti nada “marah” ya. Terutama pada parodi skenario film Indonesia. Ya nggak apa-apa juga sih marah, hehehe… asal tetep lucu aja. Dua skenario terakhir sudah hilang lucunya.

3. Sampulnya bagus.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s