Mengamini Sebuah Kesahajaan

Pulang: Kumpulan Cerpen
Karya Happy Salma

Terbit November 2006 oleh Penerbit Koekoesan | Binding: Paperback | ISBN: 979954525 | Halaman: 120

AKU tidak kenal Happy Salma. Baik dalam dunia keartisannya, maupun dalam dunia kesehariannya. Aku tidak seperti Sonny, misalnya, yang pernah sama-sama satu kampus di Yogya dan kenal baik pribadinya bahkan bisa dengan santai menghubungi Happy berhaha-hihi. Aku juga tidak tahu film/sinetron apa yang pernah dimainkan Happy Salma.

Tapi ada pesona kegigihan yang dipancarkan Happy Salma waktu memerankan Nyai Ontosoroh di TIM 14 Agustus 2007 lalu. Dialog yang panjang dan sulit, yang dikutip langsung dari buku pertama tetralogi Pramoedya Ananta Toer Bumi Manusia, demikian mulus mengalir dari dirinya, seolah pada saat pementasan itu Happy Salma adalah Nyai Ontosoroh sendiri. Aku tidak risau dengan perawakannya yang kurang mirip gambaran Nyai Ontosoroh.

Sejak saat itu, Happy Salma punya makna baru. Ia bukan artis sekedar. Selebritasi memang umurnya pendek. Maka syukurlah, ada artis yang tersadar dan memilih menekuni dunia yang sepi ini: menjadi seniman dan menjadi penulis.

Kepenulisan Happy Salma terwujud dalam kumpulan cerpen ini. Jumlahnya jauh di bawah rata-rata kumpulan cerpen yang sering aku baca: hanya 8 cerita.

Diksinya kaku dengan bumbu bahasa yang minim, penuturannya terlampau sederhana. Masing-masing cerita selalu dalam jarak yang rapat, antara kakak-adik dan anak-ibu, sehingga cerita tidak terlalu berkembang dan tidak menawarkan sesuatu yang bisa dikenang atau sejenak hinggap di kepala yang membaca. Happy Salma seolah mengamini perkataan yang tercantum di lidah buku mengenai dirinya sendiri: “pada mulanya adalah kesahajaan” — dan benar, kumpulan ini adalah kesahajaan semata.

Meskipun demikian, Happy Salma masih berupaya menawarkan akhir cerita yang menawan. Kadang-kadang tidak tertebak, tapi ada juga yang mudah ditebak. Aku jadi ingat Regina Pernong, anak umur ke-16 tahun yang baru menulis. Ia juga punya cerita yang tidak tertebak ujungnya. Kurang lebih Happy mengusung format yang sama.

Sempat aku berpikir Happy tidak akan menulis lagi, tapi ternyata ia sudah menerbitkan kumpulan cerpennya yang kedua, Telaga Fatamorgana, di tahun 2008 ini. Setidaknya ia serius.

2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s