Garuda: Dari Mitologi ke Realita, Akankah Punah?

Mencari Telur Garuda
Karya Nanang R. Hidayat

Terbit Juni 2008 oleh Penerbit Nalar | Binding: Softcover | ISBN: 9792690166 (isbn13: 9789792690163) | Halaman: 140


TANGGAL 6 Maret 2006. Sebuah gua berisi fosil naga utuh dalam lapisan es tebal ditemukan di pegunungan Romania. Apakah ini berita bohong? Bohong atau tidaknya, buktinya fakta ini mendorong dibuatnya film dokudrama produksi BBC dan The Discovery Networks. Judulnya “Dragon’s World: A Fantasy Made Real”, dilengkapi dengan kecanggihan efek film dari Framestore, sehingga gerakan naga di dalam film itu mulus sekali. Ceritanya berangkat dari konsep yang sederhana: bagaimana jika naga adalah nyata.

Sama dengan naga, garuda juga binatang mitologis. Sebagai binatang mitologis, ia dipercaya sebagai raja burung yang bentangan sayapnya mampu menutup bulan dan kesaktiannya mampu menjebol pohon beringin hingga ke akar-akarnya. Pencatatan tentang burung mitologis ini adalah dalam bentuk teks maupun pahatan di bebatuan candi di India hingga Indonesia. Nyatakah? Mungkin…

Sebagai penanda, tampaknya garuda terus dipakai hingga hari ini. Tentunya dengan distorsi yang macam-macam. Misal: garuda dipakai sebagai nama maskapai penerbangan Indonesia. Lalu salah satu anak perusahaannya, memakai nama Merpati. Garuda = besar. Merpati = kecil. Lalu ingat iklan Kacang Garuda? Seekor burung garuda (tapi jenis Aquila) terbang dengan gagah, lalu mencabut tanaman kacang. Yay, burung garuda yang vegetarian rupanya…

Tapi pada tahun 1950, oleh para bapak bangsa republik ini, burung mitologis ini dipilih sebagai lambang negara. Ia diambil dari ranah mitologis, kemudian dikawinkan dengan elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan mewujud dalam bentuk lambang negara yang ada sekarang. Kenapa elang Jawa? Karena kemiripannya dengan Garuda. Elang Jawa hanya terdapat di Pulau Jawa dan penyebarannya terbatas di hutan-hutan. Sebagai predator puncak, Elang Jawa memainkan peran yang penting dalam menjaga keseimbangan dan fungsi dari bioma hutan di Jawa.

Siapa yang memiliki ide itu? Penulis buku ini Nanang R. Hidayat menghimpun keterangan dari tesis, tulisan, artikel di internet, hingga muncul beberapa nama: Muhammad Yamin, Soekarno, Sultan Hamid II, hingga Basuki Resobowo. Semua dihimpun tanpa ada pretensi untuk menunjukkan mana yang benar-benar membuat lambang itu. Menarik! Sekalipun apa yang ditawarkan Nanang R. Hidayat dalam buku ini bukanlah teks sejarah. Itu yang diakuinya sendiri.

Ia menawarkan sebuah telaah budaya akan garuda sebagai lambang negara, mulai dari “telor”-nya: ide/konsep/referensi hingga ke konsep “terbang”-nya: realisasi hingga ‘lenyap’ ke langit. Telaah yang bukan sekedar, aku pikir, karena ia menyodorkan sebuah sejarah kebudayaan tentang garuda. Garuda sebagai lambang negara yang kini mungkin maknanya seringkali diremehkan, tapi pernah pada suatu masa ditunggangi dengan seenaknya oleh Soeharto untuk membagi masyarakat pada dua lapisan: yang Pancasilais dan yang tidak. Ini tak lepas dari penyimbolan lambang negara dalam wujud burung garuda dengan perisai 5 sila Pancasila di dadanya, dan pita “Bhinneka Tunggal Ika” di kakinya.

Sebagai sebuah telaah budaya, yang disodorkan bukan hanya apa yang ada di masa lalu. Nanang mengkinikan garuda di keseharian bangsa Indonesia. Bahwa bangsa yang pernah diingatkan oleh presiden pertamanya ini untuk ‘jangan sekali-sekali melupakan sejarah’, akhirnya lupa juga. Capek-capek dibikinkan lambang, akhirnya diabaikan juga. Lihatnya betapa tak karuan proses pengadopsian lambang ini dalam keseharian: baik oleh masyarakat (masih bisa dimaafkan) sampai ke institusi negara sendiri (yaaaaaak amppppuuuuun!!!). Atau dijadikan plesetan oleh Republik Mimpi yang sebaiknya dimaknai bukan menghina, tetapi sebagai kritik atas melemahnya negara. Makanya boro-boro mau peduli pada nasib elang Jawa yang menurut data terkini dari Kompas tinggal 19 ekor saja. Cuma tinggal mengikuti apa yang tertera dalam aturan pemerintah saja, bangsa ini tidak peduli. Stop! stop! Aku tidak mau melantur lebih jauh lagi.

Oke, kembali lagi soal buku ini. Untuk menjadikan buku ini lebih baik lagi, aku pikir perlu beberapa hal diperbaiki (bilamana cetak ulang):
* Pertama, soal editing. Koreksi kata-kata ini dan salah cetak ini: ‘blad eagles’, ‘multiple chois’, ‘lancana’ atau ‘lencana’, dll.
* Kedua, buang isi halaman 79-80 yang kontra-produktif pada berisi tentang International Illumination. Aneh sekali kenapa ada.
* Ketiga, pancasila sebagai bagian lambang negara dan pancasila sebagai ideologi aku pikir perlu dipisahkan. jangan ditumpang tindih dalam satu bagian.
* Keempat, caption foto aku pikir perlu ada di setiap foto. Agar ilustrasi situasi lebih terbangun.

Aku pikir apa yang dilakukan Nanang R. Hidayat ini bila semula sekedar keisengan, tak mengapalah diteruskan dan digulirkan oleh masing-masing kita. Agar tidak perlu suatu hari nanti kita kutip kata persembahannya: Untuk negeri tercinta tempat tumbuh anak cucu kita nanti ketika mungkin sudah tak ada lagi Garuda Pancasila di sana.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s