Awal Perkenalan yang Indah dengan Haruki Murakami

Dengarlah Nyanyian Angin
Karya Haruki Murakami

Terbit Oktober 2008 oleh Penerbit KPG | Cetakan pertama Kaze No Uta O Kike 1979 | Binding: Paperback | ISBN: – (isbn13: 9789799101372) | Halaman: 147 | Karakter: aku, Nezumi | Setting: Jepang

“Dibanding alam semesta yang njelimet, dunia kita ini hanya seperti otak cacing.” (Derek Heartfield)

NOVEL ini mengawali perkenalan yang sangat baik akan penulis yang dijuluki oleh Times sebagai penulis beken abad ini Haruki Murakami. Memang novelnya yang lain seperti Norwegian Wood (sudah diterbitkan oleh Penerbit KPG) dan Kafka On The Shore sudah cukup lama terbit di Indonesia. Tapi aku sendiri baru mengawalinya justru bukan dengan membaca novel kelima Haruki Murakami Norwegian Wood yang sudah mashyur itu, tapi dengan novel pertamanya ini: Dengarlah Nyanyian Angin (Kaze No Uta O Kike) yang langsung mendapat penghargaan Gunzo Literary tahun 1979.

Karya debutan ini konon muncul di musim semi tahun 1974, saat Murakami sedang menonton pertandingan bisbol. Tiba-tiba dia mendapat inspirasi dan segera menulis novel pertamanya ini, sebuah novel yang bagiku ringan, keluar dari tradisi novel ala Yanusari Kawabata atau Mishima yang kaku.

Entah ya, penilaianku ini mungkin berdasar pada cerita yang disodorkan Murakami dalam novel pertamanya ini. Betul-betul cerita sehari-sehari, anak muda sekali obrolannya, yang kadang serius, tapi seringkali konyol. Mungkin orang lain bisa menganggapnya terlalu ‘pop’, sampah remeh temeh, dan kebarat-baratan (merujuk pada perilaku lho ya…) Kekonyolannya bisa dilihat dalam satu kalimat ini: “Perempuan ketiga yang tidur denganku menyebut penisku raison d’etre kamu.” (hal. 85)

Novel ini bercerita tentang tokoh aku: seorang anak muda, suka membaca dan musik, dari kuliah dia sudah terobsesi menjadi penulis gara-gara seorang penulis Amerika bernama Derek Heartfield, namun sampai umur 29 dan menikah, tak satupun novel yang ia tulis. Ia punya teman, bernama Nezumi yang dalam bahasa Jepang artinya tikus. Anak orang kaya tapi risih dengan kenyataan itu, lalu banting setir untuk mabok-mabokan hampir setiap hari di Jay’s Bar bersama si aku, ngobrol nggak jelas, namun di kemudian hari malahan dia yang jadi novelis. Padahal awalnya dia benci baca buku. Lalu ada perempuan-perempuan yang menjadi pacar si aku: perempuan pertama, perempuan kedua, dan perempuan ketiga.

Derek Heartfield yang dikagumi tokoh aku adalah penulis Amerika yang tidak tersohor. Dia seangkatan Hemingway dan Fitzgerald. Lahir 1909, tapi tahun 1938 bunuh diri dengan cara yang spektakuler: lompat dari gedung Empire State sambil mendekap foto Adolf Hitler di tangan kanan dan memegang payung hitam terbuka di tangan kiri. Tapi entah bagaimana ia punya pengagum.

Ya, salah satunya tokoh aku dalam novel ini — yang sering diasosiasikan orang sebagai personifikasi Haruki Murakami sendiri.

Ada alasannya. Si aku dalam novel ini suka musik, sama seperti Haruki Murakami yang punya koleksi lebih dari 7.000 piringan hitam di flatnya. Di dalam novel ini, si aku membaca:
1. What’s So Bad About Feeling Good? – Derek Heartfield
2. Sentimental Education – Gustav Flaubert
3. A Cat in The Hot Tin Roof – Tennesse William
4. Witch – Jules Michelet
5. The Brothers Karamazov – Fyodor Dostovesky
6. A Well in Mars – Derek Heartfield

Bacaan-bacaan itu kurang lebih sama seperti yang ditekuni Haruki Murakami saat kuliah. Literatur Barat dan musik Barat memenuhi isi kepalanya, maka tidak heran sebenarnya bila kesan kebarat-baratan itu muncul.

Tapi hey, ini Jepang lho! Jepang sekarang tak ubahnya negara-negara lain yang juga dilanda hegemoni kebudayaan Amerika. Sistem pertanda yang tradisional sudah lama ditinggalkan, kalaupun ada cuma untuk konsumsi turis seperti tradisi minum teh hijau dan lain sebagainya. Jepang di masa Haruki Murakami muda adalah Jepang yang berubah. Anak-anak mudanya suka ngebir, musik Barat dan film-film Barat. Makanya, tidak heran bila penggemar Murakami adalah anak-anak muda, karena mereka dapat merefleksikan diri mereka dalam karya-karya Murakami. Mereka semua sudah masuk dalam pola pikir tradisi Jepang itu membosankan, dan emoh dengan obsesi akan kapitalisme negara Jepang.

Judul ini tampaknya diinspirasi oleh salah satu karya Derek Heartfield yang berjudul A Well in Mars. Ceritanya tentang seorang astronot yang berniat menghabiskan hidupnya dengan masuk ke sumur di dalam planet Mars yang begitu dalam. Sumur itu ia masuki, tapi akhirnya ia keluar dari sisi lain sumur. Saat ia menembus, sebenarnya sudah 1,5 abad ia lewati dan matahari sudah dalam kondisi sekarat. Di saat itulah ia bertemu mahluk Mars yang muncul dalam bentuk angin. Ah, aku kok jadi penasaran sama karya-karya Derek Heartfield ini.

Meskipun aku yakin akan ada yang bilang novel ini membosankan, datar, tapi aku enjoy-enjoy saja membacanya. Malah ada bagian yang paling aku suka: yakni saat radio NEB menyiarkan acara Pop Telephone Request. Penyiarnya gokil!!!

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s