Ketika Diksi dan Bunyi Tak Penting

Sajak-sajak Menjelang Tidur
Karya Wendoko

Terbit 2008 oleh Banana Publisher | Binding: Paperback | ISBN: – (isbn13: 9789791079174) | Halaman: 68

SETELAH ditemani makan siang Jumat lalu, Wendoko akhirnya menemaniku sepanjang akhir pekan ini. Dari Sabtu pagi, ia sudah siap-siap minta diajak. Jadi kuajak dia pergi ke tempat cucian mobil. Tak seperti topiknya Jumat lalu tentang kematian Yesus, ini kali ia mengajakku berpikir soal puisi.

“Apakah puisi harus melulu mementingkan diksi dan bunyi?” Itu pokok pertanyaan terpentingnya. Aku jawab sekenanya: tidak harus! Meskipun aku kenal baik Saut Sitompul yang menyatakan bunyi itu penting dan secara berseloroh aku sering bercanda dengan beberapa penyair bahwa diksi itu puncak onani tertinggi. Dunia telah berubah. Bisa jadi, puisi hari ini hadir tanpa diksi dan bunyi. Kupikir ia bakal meradang, tapi Wendoko malah menyuruhku membaca ini:

Malam, kota adalah belantara warna hitam dengan kedipan-kedipan lampu. tak ada langit, dan dari jendela apartment – setelah seharian memandang trotoar yang sibuk, gedung bertingkat, dan bangunan berkotak-kotak – kulihat jalanan yang lengang di bawah lampu-lampu. Ada bintik-bintik cahaya berwarna merah dari gedung-gedung yang tak tampak – sebentar memendar dan sebentar padam – tapi kelihatan buram di jendela yang basa sehabis hujan. Lalu ada petak-petak cahaya di kaca-kaca, neon tube di menara-menara… Sementara di luar apartment, ada yang bersenandung “It’s A Wonderful World”, dan tik-tok suara jam berdetak memadati ruangan.

(hal. 27)

Tidak ada diksi yang rumit atau bunyi. Benar. Yang ada hanya gambaran/deskripsi situasi yang entah mengapa jadi puitis. Apa yang disodorkannya itu seumpama kita disodori foto pemandangan dan lalu dalam hati berucap, “Indah sekali… seperti puisi” Itulah kesanku pada yang ditawarkan Wendoko selama akhir pekan ini.

Rentetan cerita yang hampir pasti prosaik ini mengingatkanku pada apa yang pernah dibahas F. Rahardi dalam rubrik Seni Kompas (April 2006). F. Rahardi menyatakan bahwa kecenderungan dalam sastra Indonesia mutakhir – dalam hal ini menyangkut prosa dan puisi telah terjadi ‘persetubuhan’ antara dua ‘lahan-garap’ sastra tersebut, di mana prosa sudah semakin puitik dan puisi semakin naratif. Jika dulu prosa hanya melulu memaparkan sebuah cerita dengan pola tutur yang seragam, maka kini, prosa seolah mendapatkan cara tutur yang lebih puitik dalam menarasikan cerita.

Begitu juga dengan puisi. Jika dulu puisi terikat oleh berbagai pakem dan ketentuan yang membelenggu, maka kini puisi sudah mendapatkan ‘padang’ yang mahaluas untuk mengembalakan kata-kata. Puisi tak lagi dibelenggu oleh berbagai ketentuan penyampaian isi. Puisi sekarang adalah puisi yang merdeka, bebas dari segala macam ikatan. Maka persetan dengan diksi dan bunyi. Maka jadilah akhir pekanku ini ditemani oleh puisi-puisi yang tak lagi mempunyai ciri khas tersebut. Puisi yang mendobrak pakem dan mencari gaya tersendiri.

Hanya saja, memang perlu waktu untuk beradaptasi dengan apa yang disodorkan Wendoko ini. Belum jelas benar kunyahanku atas kumpulan puisi (Oratorium) Paskah karya Wendoko 2 tahun silam, ditambah apa yang kini dibawanya ke akhir pekanku, sejenak membuatku berpikir untuk menghentikan dulu baca puisi barang sebulan. Sekedar untuk mengendapkan apa yang disampaikan Wendoko.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s