Tekstualisasi Kisah Lama

(Oratorium) Paskah
Karya Wendoko

Terbit Mei 2006 oleh Penerbit Akubaca | Binding: Paperback | ISBN: – | Halaman: 86

PANAS menyengat di luar berjam-jam. Berpayah-payah aku menyusuri lorong gedung menghindari terik, tapi matahari begitu pintar menyembunyikan bayang-bayang. Akhirnya terbakar juga. Sebentar kemudian, aku masuk ke rumah makan teduh. Duduk di meja kosong pojokan karena berjanji makan siang ditemani Wendoko.

Aku baru kenal Wendoko ini. Maka sambil makan siang, aku menatap Wendoko. Tiba-tiba Wendoko bertutur tentang kisah sengsara Yesus. Tentang Yesus, kamu mungkin mengenalnya dengan nama Isa. Aneh benar, makan siang sambil mendengar kisah sengsara Yesus…

Mungkin karena Wendoko katolik benar maka dia begitu senang bicara tentang kisah sengsara Yesus, pikirku. Karena orang katolik dan teks-teks ajarannya lebih menekankan tentang kematiannya (paskah) daripada tentang kelahirannya (natal). Kematian di dalam ajaran katolik dipandang sebagai sebuah hal yang patut disyukuri, sehingga tak heran bila banyak pastor yang berkhotbah di pemakaman: “selamat menempuh hidup baru dengan bahagia.” Tapi Wendoko bukan pastor dan tidak hendak menyuarakan syiar agama. Seperti katanya, aku ini kumpulan sajak.

Baiklah, baiklah! Aku tanggalkan pemikiranku tentang katolik. Kitab-kitab yang biasanya sudah penuh stabilo kulupakan dulu. Mereka kuletakkan jauh-jauh.

Lalu aku menatap lagi perkataannya baik-baik. Wendoko memang sedang memadukan teks sakral dan bentuk puisi, bukan dengan cara yang pernah aku lihat pada karya Kahlil Gibran, tetapi dengan cara memotong teks aslinya dan teks buku doa, kadang dalam potongan besar, tapi seringkali potongan kecil yang terdiri dari sebaris atau dua baris. Aku belum pernah melihat paduan seperti dalam puisi berikut ini:

Ibu aku tidak berdosa!
Tetapi ibu, pecut itu – dera itu
berdetar sepanjang malam,
dan subuh, mimpiku seperti membeku.

(LALU KRISTUS MENATAP BUNDANYA
TANPA KATA, DIKARENAKAN SENJA)

: Tuhan, kasihanilah kami
: Kristus, kasihanilah kami

(hal. 28)

Lewat buku ini, Wendoko memadu teks baru (yang ditulisnya sendiri) dengan teks lama (yang tertulis kitab dan buku doa) dan membungkusnya dalam konteks baru yang bukan lagi kitab atau buku doa, melainkan kumpulan sajak. Mungkin ini yang dimaksud oleh Bambang Sugiharto dalam catatan samping buku ini. Semoga benar, karena bila tidak aku akan benar-benar bingung.

Agaknya memang terlalu sulit buatku untuk lama-lama menjauhkan kumpulan (Oratorium) Paskah ini dengan kekatolikan. Maaf ya Wendoko. Namun ada sesuatu yang aku suka dari karyanya ini. Apalagi kalau bukan karena selipan-selipan teks lama, yang sering juga kulakukan karena menyukai cara penulisannya yang kaku dan aneh.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s