Jungkir Balik dalam Sastra

Solilokui: Kumpulan Esei Sastra

Karya Budi Darma

Terbit Mei 1984 oleh Gramedia | Cetakan pertama: 1983 | Binding: Paperback | ISBN: – | Halaman 100


TERGERAK ingin tahu jawaban apakah “sastra merupakan dunia jungkir balik”, aku baca buku pinjaman dari Ronny ini. Secara sederhana (tidak rumit), Budi Darma menjelaskan apa saja yang berlaku di dalam sastra. Bahwa apa yang melawan logika, itu bisa diterima dalam sastra bahkan bisa dikatakan indah. Sesuatu yang barangkali menjadi ciri khasnya.

Aku jadi ingat pembicaraan seorang teman yang mendapat keluhan dari teman kantornya. “Ngapain sih baca sastra?” Atau kernyitan istriku sendiri menyaksikan penampilan Gieb di acara Halal Bihalal kemarin. “Gieb, ngapain sih kok tiba-tiba jatuh?” Oalaaaaaahh…. Harusnya mereka kusodori saja buku ini. Barangkali dengan demikian bisa memahami sastra.

Bahwa sastra sebagai sebuah dunia memang bukanlah dunia yang mudah dipahami. Rumit perkaranya. Satu kali, menurut Budi Darma, ada sebuah tulisan yang dikonsep serius dan berkali-kali ditulis ulang oleh seorang yang mengaku penyair tapi tetap saja tidak terkirim ke surat kabar. Sementara ada penyair lain, yang kelihatan menulis begitu saja, tanpa persiapan, tapi tulisannya langsung dimuat di surat kabar. Kenapa? Kata Budi Darma dalam eseinya berjudul “Menulis sungguh-sungguh dan menulis pura-pura”, perbedaan bukan pada adanya persiapan atau tidak, tetapi pada kedalaman batin si penulis.

Kali lain, Budi Darma bercerita tentang kegiatan orang seni yang menyepelekan bentuk seni pada apa yang gila-gilaan/penuh sensasi. Mereka membeo begitu saja apa yang dilakukan Rendra dengan bertingkah gila di pantai, menjadi kelompok urakan. “Apakah itu seni?” tanya Budi Darma. Lalu ia jawab sendiri: orang-orang seperti itu melupakan dua hal. Hal-hal hebat sesungguhnya mula-mula berpancar dari otak dan sesungguhnya yang dinamakan seni bukanlah kejutan demi kepentingan kejutan-kejutan.

Kritik paling keras dalam kumpulan esai ini ada pada “Pemberontak dan pandai mendadak”. Budi Darma bisa begitu menohok dengan tulisannya. Dengan blak-blakkan dia bercerita tentang dunia sastra Indonesia. Bagaimana seseorang hadir sebagai pemberontak, dengan mengatakan buruknya sastra Indonesia, lalu dia meniru apa yang dilakukan oleh para pelukis yang tidak bisa menggambar gelas, piring dengan benar lalu mengatakan dirinya adalah pelukis abstrak, melakukan eksperimen-eksperimen menulis sambil mengatakan “inilah masa depan sastra Indonesia”. Budi Darma tidak sedang menunjuk hidung seseorang. Aku pikir dia sedang menunjukkan pada kita bahwa “memberontak” dalam konteks sastra bukanlah sekedar memakai ukuran-ukuran di permukaan. “Memberontak” harus dimaknai dengan menunjukkan bagaimana bekerja lebih baik, bagaimana menulis lebih baik,

Kumpulan 17 esai ini memang banyak memberi gambaran sederhana tentang dunia sastra. Dan inilah yang ditulis Budi Darma, yang barangkali baik bila kita jadikan pegangan waktu membaca sastra. “Kebanyakan penjelasan mengenai sastra kurang tepat, karena penjelasan-penjelasan tersebut lebih banyak menitikberatkan segi luar sastra. Sastra memang karya tulis, akan tetapi yang penting bukanlah tulisannya, melainkan apa yang ada di dalamnya.” (esai berjudul “Sastra: Sebuah Catatan”, hal. 51)

3/5
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s