Tema besarnya tetap kisah cinta

Rectoverso
Karya Dee (Dewi Lestari)

Terbit Juli 2008 oleh Goodfaith, Bandung | Binding: Hardcover | ISBN: – (isbn13: 9789799625748) | Halaman: 148

Simak dulu keterangan tentang Rectoverso di http://www.dee-rectoverso.com

SEKALI waktu aku pernah bertanya ke mbak Dewi Lestari (Dee), “Lagi ngerjain apa mbak?” Dan dijawab lagi sibuk dengan proyek “Rectoverso” – hibrida cerita+musik. Wah, aku langsung terpukau dan tak sabar menanti persis seperti anak laki-laki yang dijanjikan mau dibelikan mainan oleh ayahnya… Tunggu punya tunggu, akhirnya penantian pada hibrida buku+CD audio itu sampai di tanganku, meskipun sebenarnya dipinjami Roos.

Sejak menerimanya, aku menjalani ritual yang sesuai dengan anjuran Dee, yang kadang-kadang kupikir seperti manual cara menikmati Rectoverso (RV): “dengar bukunya, baca musiknya.” Jadi bukunya ku-“dengar” lebih dulu. Kupasang telingaku untuk menyusuri deretan abjad-abjad, ilustrasi dan foto yang menghiasinya. Barulah kemudian kubiarkan mataku menyusuri musiknya. Barisan nada itu hilir-mudik di pandanganku.

Begitu ritual itu usai, aku berduka.

Berduka untuk sebuah kehilangan atas karya-karya Dee.

Ada jeda cukup lama antara duka itu dan keberanianku menulis ulasan ini untuk dibagikan. Jeda yang kupikir perlu agar diriku bisa mengambil jarak yang lumayan jauh, melihat segalanya dalam kerangka yang lebih besar. Karena memang, berdekatan dengan Dee kadang membuatku mabuk kepayang. Sejak Supernova hingga Filosofi Kopi (FK), semua begitu membius.

Ingat cerpen Rico de Roco di FK? Belakangan hari kutemukan jejak Kafka di dalamnya. Kafka yang pernah menulis cerpen Metamorphosa pun menggunakan medium kecoa untuk berkarya. Pada cerita Filosofi Kopi, kutemukan jejak pemikiran besar di balik cerita yang terlalu sederhana tentang mendirikan kafe kopi. Begitu pula dengan sederet cerpen lainnya yang dirangkum dari satu dekade penulisannya.

Itulah sebabnya kubiarkan jarak tercipta dulu oleh waktu, baru kutuliskan ini semua. Rectoverso tak lain tak bukan hanyalah 11 cerita cinta. Tidak lebih. Meskipun balutan rasa bahasa Dee yang penuh pukau. Tidak kurang. Meskipun perspektif yang diusung belum ada tandingannya. Tema besarnya tetap kisah cinta.

Masing-masing cerita dari 11 cerita pendek di dalamnya seperti menawarkan sebuah formula cerita dengan kutipan kata “cinta” di dalamnya: cinta sahabat sendiri. cinta tak sampai. hantu bercinta. autis pun tahu artinya cinta. cinta ibu. cinta, cinta, dan cinta. Kontestasi cinta mana yang paling besar, ragam cinta, dan lain-lain. Pemahaman Dee akan cinta seolah diwakili oleh kalimat dalam cerpen “Peluk”: Mendadak aku lelah karena harus menjelaskan variasi cinta macam pedagang yang mempresentasikan katalog produk. Aku tidak tahu cinta punya berapa macam varian.

Ah Dee, aku juga tidak tahu. Mungkin juga tidak perlu tahu. Cinta itu bukan teori. Cinta itu cukup tanyakan pada hatiku, tempat cinta berbenih, tumbuh, dan mati. Dari 11 cerita pendek ini ada beberapa cerita cinta yang aku suka selain “Peluk”. Ada “Cicak di Dinding”, terutama saat sang pelukis berbisik demikian pada perempuan pujaan yang akan jadi istri sahabat baiknya: Kutitipkan mereka untuk menjaga kamu… mengagumi kamu

Terakhir yang kusuka adalah “Hanya Isyarat” yang barangkali mewakili keinginanku juga untuk menjadi sekedar penatap punggung karya Dee, dan bukan bersentuhan lewat RV ini.

Aku permisi pergi ke tempat dudukku semula… Ia kembali menjadi sebentuk punggung yang sanggup kuhayati, yang kuisyarati halus melalui udara, langit, sinar bulan, atau gelembung bir

Aku berlalu sambil menutupi mataku yang basah.

2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s