Hanya otobiografi yang sejatinya sastra

Laskar Pelangi
Karya Andrea Hirata

Terbit 2005 oleh Bentang Pustaka | Binding: Paperback | ISBN: 9793062797 | Halaman: 530 | Karakter: Ikal, Lintang, Mahar, Bu Muslimah, Pak Harfan | Setting: Belitung/Belitong

PADA awal-awal penerbitannya sebelum menjadi megah dan tenar seperti hari ini, setiap kali orang baca tentang Laskar Pelangi, pertanyaan paling mendasar yang seringkali terbit: otobiografi Andrea Hirata sendirikah ini?

Baru belakangan hari, kita mendapat jawabannya dari sang penulis bahwa itu kehidupannya sebagai anak Belitong. Lalu diperkuat oleh sejumlah kesaksian orang-orang yang masih hidup termasuk Bu Muslimah sendiri.

Virginia Woolf pernah menulis begini: “Novel-novel sesungguhnya adalah persiapan kepada sastra sejati. Novel adalah kulit luar, yang harus dikelupas. Hanya otobiografi yang sejatinya sastra.” Mungkin untuk menuliskan Laskar Pelangi dan 3 buku lainnya (buku terakhir belum terbit berjudul Maryamah Karpov), Andrea Hirata membaca ulang surat-surat serta catatan pribadinya.

Di situlah dia mengingat perasaan-perasaan masa kecilnya sehingga dengan lancar Andrea bisa membeberkan kisah-kisah anak-anak hebat seperti Lintang dan Mahar, serta kisah cinta monyetnya dengan A Ling. Dan beruntunglah Andrea mempunyai kisah hidup seperti itu. Sedikit beruntunglah kita yang dibagi cerita hidup masa kecilnya lewat buku ini.

Karena itu buku ini layak dinilai OK untuk dibaca. Kan sah donk kalau Andrea mau membagi kisah hidupnya pada kita karena ia mengamini betul perkataan ini: “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya!

Review Film “Laskar Pelangi”

Aku nonton LP sehari sebelum rilis film ini untuk umum. Ini juga gara-gara dapat tiket gratis dan menonton LP di Megablitz Grand Indonesia. Itu kali kedua menonton di tempat senyaman itu. Kali pertama juga nonton gratisan Harpot. Hehehe. Maklumlah, wajahku mengundang iba para pemilik tiket. 😛

Proses penulisan skenario LP ditangani oleh Salman Aristo (Aris), teman baikku yang sudah jauh-jauh hari kami sering berdialog tentang buku dan film. Mengadaptasi buku ke dalam film tidak akan pernah semudah memindahkan isi buku ke medium seluloid, itu hasil kesepakatan kami. Karena kedua medium punya keterbatasan dan pada film keterbatasan paling utama ada pada durasi. Dengan durasi 2 jam, tepatnya 125 menit, penulis skenario dituntut untuk menyajikan cerita yang bernas dengan pesan yang tidak boleh meleset dari bukunya.

Apa isi pesan LP? Teman-teman yang sudah baca bukunya pasti tahu. Dan aku berpikir, film ini berhasil menyampaikan pesan yang ada di dalam buku. Sekarang sedikit catatan penting mengenai film ini dari perspektif seorang pembaca buku dan penikmat film.

Film ini berhasil mengatasi persoalan yang ada di dalam buku Laskar Pelangi, yakni tidak adanya garis pembeda antara Ikal kecil dan Ikal dewasa. Ikal kecil di dalam buku begitu sering melontarkan kata-kata yang dewasa (melampaui usianya yang masih kecil). Jadi di film ini, garis batasnya jelas antara Ikal kecil dan Ikal dewasa. Ikal dewasa hanya hadir di awal dan di akhir cerita. Sementara Ikal kecil hilir-mudik di 80% durasi film.

Di film ini juga syukurlah tidak ada bahasa Latin untuk tanaman-tanaman yang ditemui di alam Belitong. Syukurlah! Karena di buku memang tidak ada kejelasan mengapa ada begitu banyak bahasa Latin, apakah karena Ikal kecil suka biologi atau bagaimana.

Dan ngomong-ngomong soal Belitong, bahasa gambar Yadi Sugandi (senimatografer LP) berhasil merekam sedikit keindahan Belitong. Sedikit? Iya, seharusnya bisa lebih banyak lagi daripada sekedar jalan kosong, batu besar, dan buaya. Pantai putih di Belitong itu luar biasa indah, seharusnya diberi porsi lebih dengan pemilihan lensa yang lebih lebar. Namun dalam sisi skenario, film LP ini melengkapi visualisasi cerita dengan dialek Belitong. Salut untuk para pemain yang konsisten mengangkat dialek ini ke dalam film.

Mengenai ceritanya, sudah barang tentu tidak 100% seperti buku. Bahkan film ini berani memberi narasi di luar isi teks LP yang secara struktur diperuntukkan agar film ini bisa dinikmati oleh penonton dalam dua jam dan mereka pulang membawa “isi pesan Andrea Hirata” dari buku LP. Stukturnya jelas, karena memang Aris memang penganut strukturalis dengan pakem 3 Act dan beberapa sub plot cerita. Jadi aku yakinkan dan berani merekomendasikan film ini baik ditonton karena pesannya jelas.

Tentang casting (pemilihan tokoh) harus diberi catatan tersendiri. Di dalam cerita sosok Ibu Muslimah yang banyak senyum ternyata bisa dilakonkan Cut Mini dengan baik. Banyak sekali shot Cut Mini tersenyum. Di kelas, tersenyum. Di jalan, tersenyum. Tapi senyum Cut Mini tidak seindah bayanganku akan senyum Bu Muslimah. Harusnya lebih ikhlas lagi… Tapi tak mengapalah. Acungan jempol untuk akting Ikranegara sebagai Kepsek Harfan. Bahkan akting aktor-aktor lain jadi tenggelam karena kepiawaian Ikranegara ini, seperti Mathias Muchus, Slamet Raharjo, apalagi akting Rieke. Justru yang jadi pertanyaan mengenai casting ini adalah: mengapa ada Tora Sudiro?

Aku mencoba memahami kehadiran Tora Sudiro yang jelas-jelas di buku tidak ada sosoknya dari kacamata Aris, si penulis skenario. LP sebagai buku memang kurang menawarkan banyak konflik. Sampai setengah buku, konflik tidak ada karena hanya semata-mata berisi deskripsi. Namun belakangan konflik mulai muncul saat Pak Harfan meninggal. Nah dugaan terbaikku, Aris memasukkan tokoh Pak Mahmud (Tora Sudiro), guru SD Timah yang naksir dan bersimpati kepada Bu Muslimah sebagai bagian sub plot kisah Bu Muslimah. Masa sih dia tidak punya pacar? Kira-kira demikian, lalu tokoh Pak Mahmud ini tercipta. Masalahnya bukan pada sub plot tersebut, tetapi pada kegagapan Tora Sudiro menanggalkan dirinya yang komedian. Ia harusnya berani melepas tampang bodohnya itu yang mengundang tawa itu dengan wajah seorang pendamba Bu Muslimah.

Catatan kecil tentang bahasa gambar yang ditangani oleh sinematografi senior Yadi Sugandi. Aku pikir Yadi perlu menjelaskan pilihan-pilihan angle yang ia pakai dalam film ini. Belitong yang kaya lanskap indah tidak melulu harus dikorbankan dengan pengambilan gambar yang tight shot pada profil para tokoh. Sudut-sudut pengambilan juga harus lebih diperkaya karena sebagai penonton lumayan bosan juga melihat sudut pengambilan gambar yang itu-itu saja misalnya pada shot frontal sekolah SD Muhammadiyah yang hampir ambruk itu, atau pada shot Lintang melintasi buaya. Bagaimana dengan sekitar SD Muhammadiyah yang tergambar begitu sedikit, dalam konteks Belitong. Satu-satunya petunjuk hanya jalan di depan dan ilalang, tetapi tidak utuh sebagai sebuah konteks.

Soal musik, kayaknya aku harus komen lagi nih. Scoring musik untuk film ini yang digarap oleh Tia Soebiakto sangat elegan. Benar-benar membangun suasana. Apalagi ada tambahan lagu-lagu sumbangan dari band-band papan atas Indonesia seperti Nidji, Netral, Gita Gutawa…

Oya, tentang lagu “Bunga Seroja” itu … menurut mas Riri, itu adalah best scene yang paling ia suka dan ia tunggu-tunggu. Tadi malam pas lihat lagi, aku jadi merhatiin betul bagian itu dan cukup terhibur… seperti nonton video klip yang lucu, apalagi pas bagian Ikal mengendap-endap hendak membuntuti A ling berbaju merah, tapi ternyata yang ia temui cuma kaos kaki merahnya Harun. 😛

Secara utuh, film garapan Riri Riza (Miles Production) ini memang layak tonton, terutama oleh mereka yang sudah membaca bukunya. Bagi yang belum, jangan takut karena film ini bisa juga dinikmati dan pesan antara buku dan film tetap sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s