Bermain Kata Bersama Jokpin

Kekasihku
Karya Joko Pinurbo

Terbit 2004 oleh Kepustakaan Populer Gramedia | Binding: Paperback | ISBN: 9799100143X

PENULIS Ben Okri menulis demikian: “Manusia adalah homo fabulator” (A Way of Being Free terbitan 1998). Sang manusia kecil itu mulai bermain dengan kata, sambil belajar mengerti kata yang dimainkan. Demikianlah, bayi di umur enam hari dapat merekam kata/gerakan yang ia dengar/lihat. Dengan menyandang keserbabisaan itu, tentulah setiap kita sanggup bermain dengan kata.

Tak ubahnya Joko Pinurbo yang pandai memainkan kata “celana”, “ranjang”, “kuburan”, “bulan” sebagai simbol/pertanda dengan piawai. Atas keahliannya ini, aku ikut tepok-tepok tangan di sebelah Roos, Gieb, Nanto, Mia, Dahlia, Syl, dan teman-teman Goodreads lain yang ikut membaca kumpulan puisi yang menang Khatulistiwa Award (KLA) tahun 2004 ini. Ikut senang seperti orang menonton sirkus juggling. Menikmatinya pun kusamakan seperti menyusu, makin kata-katanya tersedot ke dalam tubuh, makin berenergilah diri. Energi inilah yang menetap dalam tubuh dan lalu menghasilkan apresiasi atau bahkan melahirkan puisi yang baru. Semua sah-sah saja muncul.

Perkenalan kedua dengan karya Jokpin membuatku terpincut pada beberapa puisi berikut. Seperti puisi berjudul “Rumah Cinta”, pandangan mataku terpikat pada kalimat ini: Miskin mungkin bencana, tapi kaya juga cuma karunia. Bukankah kata-kata itu getir, sekaligus manis?!

Rumah Cinta
buat Wien & A’an

Aku datang ke dalam engkau,
ke rumah rantau yang melindap
di antara dua bukit
di mana senja mengerjap-ngerjap
dalam kerlap biru langit.

Ada sejoli celana berkibar-kibar
di balik jendela:
Hai, kami sedang belajar bahagia.
Ada buku masih terbuka di atas meja
dan ada ayat rahasia:
Miskin mungkin bencana,
tapi kaya juga cuma karunia.

Aku pulang ke dalam engkau,
ke rumah singgah yang terlindung
di antara dua kubah
dimana ia datang berkerudungkan bulan,
merapikan tubuh yang berantakan
dan berkata: Supaya tidurmu makin sederhana.

(2003)

Celana dan bulan dalam puisi di atas bisa ditafsir bermacam-macam mengikuti tradisi pembacaan Jokpin yang ditawarkan Sapardi Djoko Damono. Tetapi aku tidak terlalu tertarik membahas itu sekarang.

Mataku yang dibuai oleh kelucuan dan kelincahan kata-kata Jokpin berhenti di puisi berikutnya, yang berjudul “Perjamuan Petang”. Menurutku ada hubungan yang unik antara Jokpin dengan ayahnya, yang sesekali bisa kita lihat hadir dalam puisinya.

Perjamuan Petang (hal 3-4)

Dua puluh tahun yang lalu ia dilepas ayahnya
Digerbang depan rumahnya.
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.
Jangan pulang sebelum benar-benar jadi orang.”

Dua puluh tahun yang lalu ia tak punya celana
Yang cukup pantas untuk dipakai ke kota.
Terpaksa ia pakai celana ayahnya.
Memang agak kedodoran, tapi cukup keren juga.
“Selamat jalan. Hati-hati, jangan sampai
celanaku hilang.”

Senja makin menumpuk diatas meja.
Senja yang merah tua.
Ibunya sering menangis memikirkan nasipnya.
Ayahnya suka menggerutu,
“Kembalikan dong celanaku!”

Haha, si bangsat akhirnya datang.
Datang di akhir petang bersama buku-buku
yang ditulisnya di perantauan.
Ibunya segera membimbingnya ke meja perjamuan.
“Kenalkan, ini jagoanku.” Ia tersipu-sipu.
Saudara-saudaranya mencoba menahan tangis
melihat kepalanya berambutkan gerimis.
“Hai, ubanmu subur berkat puisi?” Ia tertawa geli.

Di atas meja perjamuan jenazah ayahnya
Terlentang tenang berselimutkan mambang.
Daun-daun kalender beterbangan.
“Ayah berpesan apa?” Ia terbata-bata.
“Ayahmu cuma sempat bilang, kalau mati ia ingin
mengenakan celana kesayangannya:
celana yang dulu kau pakai itu.”

Diciumnya jidat ayahnya sepenuh kenangan.
Tubuh yang tak butuh lagi celana adalah sakramen.
Celana yang tak kembali adalah testamen.
“Yah, maafkan aku. Celanamu terselip
di tetumpukan kata-kataku.”

(2003)

Ayah yang hampir tak pernah digambarkan berada satu garis dengan dirinya, yang di puisi ini digambarkan menuntut penulis untuk bersekolah tinggi-tinggi. Tetapi begitu penulis lulus, ayahnya tak bisa melihat anaknya lagi. Di puisi Jokpin lain di dalam buku Celana, malahan ada kisahan yang lebih pilu lagi tentang perselisihan ayah dan anak ini.

Benar kata Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo perlu mendapat perhatian. Aku jadi tak sabar ingin menikmati karyanya yang lain.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s