Pertemuan Antara Yang Sadar dan Tak Sadar

Penggambar Mimpi
Karya E. Nandiasari, Nilam Suri, Nurkastelia A., Runi Indrani

Terbit Juli 2008 oleh Balon Udara | Binding: Paperback | ISBN: – (isbn13: 9789791816403) | Halaman: 90

Berisi 12 cerita pendek yang ditulis oleh keempat orang yang sudah lama berteman.

ADA yang menarik saat melihat buku berjudul “Penggambar Mimpi” ini. Bukan saja covernya yang unik (i always love hand drawing… makanya selalu cari art director yang bisa gambar), tapi juga karena judulnya itu sendiri. Kata “Penggambar Mimpi” bila dipecah jadi dua kata yakni “penggambar” dan “mimpi”.

Pertama, bicara soal “mimpi”. Rasa-rasanya semua orang pasti sudah akrab dengan mimpi. Mimpi adalah sesuatu yang berdimensi tapi tak berbentuk. Ia tak terjamah, tapi tetap menarik. Itu sebabnya oleh para psikoanalis seperti Sigmund Freud dan juga muridnya Carl Jung, mimpi itu sampai perlu dibikinkan sejumlah teori yang mengklaim bahwa mimpi berfungsi sebagai kompensasi dari bagian-bagian psikis yang belum berkembang sewaktu sadar. Jadi peristiwa dalam mimpi belum terjadi dalam dunia nyata, dan di luar kuasa pemimpi.

Perkecualiannya adalah mimpi yang disebut lucid dreaming. Dalam mimpi demikian, pemimpi menyadari bahwa dia sedang bermimpi saat mimpi tersebut masih berlangsung, dan terkadang mampu mengubah lingkungan dalam mimpinya serta mengendalikan beberapa aspek dalam mimpi tersebut. Pemimpi juga dapat merasakan emosi ketika bermimpi, misalnya emosi takut dalam mimpi buruk. Tapi kita tak perlu menjadi Oneirolog (ahli yang mempelajari ilmu mimpi) untuk memahami mimpi. Kadang mimpi bisa begitu aneh dan seperti punya “tujuan”, tapi kadang ya tidak punya tujuan sama sekali.

Lalu, kata kedua adalah “penggambar” yang menunjukkan sebuah persona dan sebuah aktivitas. Menggambar adalah sebuah kata kerja, yang menghasilkan sesuatu bentuk. Sedang unsur “pe” di awalnya menunjuk pada pelaku. Jadi ini adalah kegiatan sadar.

Ketika digabungkan antara “penggambar” dan “mimpi”, di sinilah ada pertemuan antara sesuatu yang berwujud, materi, aktif, dan sadar dengan sesuatu yang tak berbentuk, immaterial, pasif, dan tanpa sadar. Sebuah penggabungan yang berkehendak untuk mewujudkan sesuatu yang tak berwujud, mengaktifkan sesuatu yang pasif, menjadikannya kegiatan sadar. Good damn! Kata yang bagus sekali!

Inilah klaim yang Nielam, Sindrow, Runi dan Nandia terakan pada diri mereka. Mereka adalah “para penggambar mimpi” yang mewujudkan mimpinya ke dalam blog sebagai kanvas dan rangkaian alfabet sebagai cat minyaknya hingga akhirnya bisa kita pegang sebagai buku.

Sebuah buku yang menurut Sindrow (Nurkastelia A.) “jauuhhh banget dari sempurna. Bisa dibilang kita bikin buku ini hanya untuk bikin buku. Nggak punya target apa-apa. Mangkanya isinya campur aduk bahasa Indonesia sama Bahasa Inggris. Gawat banget deh :P”. But whatever para penulis bilang begitu, setengah dari isi buku ini aku suka. (bagi sendiri deh 12:2 hehehe)

Cerita yang aku suka:
* Yang endingnya twisted alias nggak ketebak atau bikin surprise.
“Ceritaku” – Nandia, “10-year-reunion” – Runi, “Tiga” – Sindrow, “When we dance” – Runi

* Yang akrab, intim dan penuh cinta
“Love, Underground” – Sindrow, “Tahun Kesebelas” – Nilam

Beneran, nggak perlu jadi Oneirolog… cuma perlu baca aja mimpi-mimpi yang akhirnya berwujud ini, yang hampir mendapat skor 3.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s