Sebuah buku bertajuk “Dalam rangka…”

Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia
Karya Taufik Rahzen, et. al

Terbit 2007 oleh Indonesia Buku dan The Blora Institute | Binding: Paperback | ISBN: 9791509381 (isbn13: 9789791509387) | Halaman: 456

PENERBITAN buku ini mirip dengan proyek-proyek Orde Baru, yang dikerjakan sebagai sebuah proyek fantastis, dengan hasil serba tanggung, serba setengah hati, serba buru-buru. Buku ini diterbitkan dalam rangka memperingati hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ke-62. Dalam rangka juga menunjukkan bahwa bahasa Indonesia sudah diupayakan memiliki “rumah” dalam pers nasional.

Semua “dalam rangka” ini bagus. Pasti niatnya mulia (atau bisa juga digathuk-gathukke), tapi mbok ya di sana sini diteliti soal cacat editing, salah ketik, dan sebagainya. Mungkin juga ada baiknya ditambahkan data yang lebih informatif ketimbang buru-buru dibombardir dengan tulisan mengenai si tokoh dari sudut pandang pengumpul, baik Muhidin M. Dahlan, Agung Dwi, dll.

Ini buku yang berpotensi menjadi buku terlengkap, tapi kok yah serba “Dalam rangka…” sekali hasilnya. Tapi aku mencoba arif. Aku mencoba tidak berprasangka. Dalam buku ini, 2 tokoh yang menarik untuk dibaca: TAS dan Mas Marco, Meskipun sudah pernah membaca sumber lain seperti dari tulisan Pramoedya dalam “Sang Pemula” dan membaca sendiri karya Mas Marco “Student Hijo”.

TAS yang muda 22 tahun jadi pemred surat kabar Pembrita Betawi. Setahun kemudian Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita, selanjutnya Medan Prijaji pada 1907. Kehadiran Medan Prijaji membuat khalayak mempunyai sarana berkeluh kesah lewat media surat kabar. Lalu muridnya, Marco Kartodikromo, hadir lebih beringas dari TAS guru politiknya.

Selain dua nama itu, ada Dja Endar Moeda, Douwes Dekker, Sutan Takdir Alisjahbana, SK Trimurti, Rosihan Anwar, P.K Ojong, Goenawan Muhammad, Dahlan Iskan, Seno Gumira Ajidarma, Maria Hartiningsih, Fuad Muhammad Syafruddin (Udin), hingga Bondan Winarno. Memang bukan rating, siapa yang paling berpengaruh, tapi buku ini ingin menunjukkan perjuangan mereka mengawal bahasa Indonesia sesuai gaya dan karakteristik penulisan masing-masing.

2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s