Menyaksikan transformasi dari realisme hingga ke absurdisme

Fofo dan Senggring (Kumpulan Cerpen)
Karya Budi Darma

Terbit 2005 oleh Grasindo | Binding: Paperback | ISBN: 9797592839 (isbn13: 9789797592837) | Halaman: 178

SEBUAH kilas balik. Napak tilas. Benang merah. Atau apapun namanya, sah-sah saja dilakukan. Niatan Wahyudi Siswanto (Doktor S-3 yang mengupas habis-habisan Budi Darma) itu untuk “nglumpuke balung pisah” atau dalam konteks sastra ini adalah mengumpulkan karya-karya Budi Darma yang tercecer sungguh patut diacungi jempol. Sebagaimana yang teman-teman tahu, aku telat mengenal Budi Darma. Kata Gieb, dia sezaman dengan Iwan Simatupang yang kental dengan karya-karya kegilaan. Tapi aku sudah selesai membaca Iwan tahun 1994, sedang Budi Darma baru mulai 2008 dengan membaca karyanya berjudul “Orang-Orang Bloomington”.

Kenapa niatan Wahyudi Siswanto ini patut diacungi jempol? Karena buat orang-orang yang baru mengenal Budi Darma, menyaksikan transformasi dari realisme hingga ke absurditas yang psychotic sungguh amat mencengangkan. Di kumpulan cerpen yang terdiri dari 18 cerpen ini, yang tersusun secara runut, seluruh jejak perjalanan sastra Budi Darma dari karya-karyanya yang paling awal hingga yang paling mutakhir dapat dibaca. Dengan mudah dapat aku amati seluruh perkembangan gaya penulisan, pilihan tema dan juga tehnik kepengarangannya.

Bahwa ternyata Budi Darma dulunya adalah penulis realis, sebagaimana yang terdapat pada 3 cerpen pertama di kumpulan ini: “Kecap nomer satu di sekeliling bayi”, “Manggut-manggut seperti ini biasakah?”, dan “mBah Jambe”. Ia menarik sejumput cerita kehidupan, memotretnya dengan detil, kemudian menceritakannya pada pembaca.

Ia bisa dengan santai menceritakan apa yang terjadi di seputar kematian seorang anak bahwa orang-orang yang datang senang “jualan kecap” pada orang lain tentang siapa dia dan di posisi apa anaknya sekarang, dan berlaku sok peduli pada yang berduka. Di “Manggut-manggut…”, Budi Darma mengajak orang Indonesia untuk bangga pada produk “kecap” karena cuma itulah kelebihan orang kita dibanding negara lain: negeri ini negeri penghasil “kecap nomer satu”. Gurauan-gurauan realis yang kritis ini, ia tuangkan lagi pada cerita ketiga tentang orang gila yang didaulat jadi pesohor gara-gara jago nebak nomer.

Kesemua gaya itu ia lakukan sejak tahun 1969 sampai 1970. Lalu tiba-tiba begitu saja, ia menohokku dengan cerita “Pistol” yang boleh dibilang embrio absurdisme, tema yang diusungnya hingga kini itu. Bagian akhirnya membuatku mual, perasaan mual yang sama ketika membaca Orang-Orang Bloomington. Begitu juga dengan cerita-cerita selanjutnya. Tampaknya Budi Darma sudah tergila-gila dengan tema ini.

Pantas saja, Budi Darma seperti enggan untuk menengok kembali ke masa lalu, dalam artian bahwa setiap kali ia membaca karya-karyanya yang terdahulu senantiasa ada hasrat dalam dirinya untuk kembali merombak karya-karya itu dan menyesuaikannya kembali dengan tema besar yang diusungnya itu. Lewat buku ini, gambaran sesungguhnya dari wajah kepenulisan Budi Darma secara utuh terlihat jelas.

5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s