Manusia mencari “tuhan-tuhan”-nya yang baru, “tuhan-tuhan” digital.

Dunia yang Berlari: Mencari Tuhan-tuhan Digital
Karya Yasraf Amir Piliang

Terbit 2004 oleh Grasindo | Binding: Paperback | Halaman: 391

JUDUL yang provokatif untuk sebuah buku non-fiksi, namun jika direnungkan semua terjadi dalam kehidupan sekarang ini tampaknya tepat, karena perubahan atau transformasi yang sangat cepat memerangkap manusia dan mengurungnya sehingga tidak ada ruang untuk Tuhan dan tak ada waktu untuk mengingat nama-Nya. Manusia mencari “tuhan-tuhan”-nya yang baru, “tuhan-tuhan” digital.

Gegap gempita dunia cyberspace membuat gegar dan panik, tak luput pula kesenjangan terjadi, terutama di negeri yang tak mampu mengadaptasi perubahan yang cepat. Dunia baru tanpa tatanan yang matang ini telah memanjakan hasrat masyarakat, sekaligus menciptakan manusia baru yang aktif menyalurkan hasratnya melalui dan membuat teknologi di cyberspace.

Cyberspace telah dianggap sebagai ruang publik yang bebas, sebagai alternatif dari ruang publik alun-alun, balaikota atau gedung parlemen. Namun sisi buruk yang muncul adalah ketika manusia salah mengartikan kata bebas menjadi vandalisme dan berlindung di balik anonimitas, yang memang tatanan hukum cyberspace jauh dari sempurna. Apa yang saya tulis hanyalah sebagian kecil dari yang disodorkan oleh Yasraf Amir Piliang dan tentu jauh dari sempurna

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s