Hijo – Hijaunya Orang Indonesia di Belanda

Student Hijo
Karya Marco Kartodikromo

Terbit 2000 oleh Yayasan Aksara Indonesia | Cetakan pertama: 1918 | Binding: Paperback | ISBN: 9799581729 (isbn13: 9789799581723) | Halaman: 212

Student Hijo karya Marco Kartodikromo terbit pertama kali tahun 1918 melalui Harian Sinar Hindia, dan muncul sebagai buku tahun 1919. Merupakan salah satu perintis lahirnya sastra perlawanan, sebuah fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang.

SUNGGUHPUN klasik karya ini karena ditulis ketika Mas Marco baru berumur 26 tahun, tapi plot cerita dan karakter tokoh di dalamnya sama sekali kurang menggigit. Barangkali karena harapan berlebih pada figur murid Tirto Adhi Soeryo ini menyebabkan caraku membaca novel ini menjadi bias, penuh dengan harapan-harapan adanya kisah-kisah heroik dan membangkitkan semangat, yang nyata-nyata tidak ada di dalamnya.

Dikisahkan dalam novel ini tentang Hijo, anak muda dari kalangan priyayi Jawa. Ayah Hijo, Raden Potronojo, berniat mengirim Hijo ke Belanda untuk sekolah. Dengan berangkat ke Belanda, Hidjo diharap bisa mengangkat derajat keluarganya. Meskipun sudah menjadi saudagar yang berhasil dan bisa menyamai gaya hidup kaum priyayi murni dari garis keturunan, tidak lantas kesetaraan status sosial diperoleh, khususnya di mata orang-orang yang dekat dengan gouvernement, pemerintah kolonial.

Sampai di Belanda, mata dan pikiran Hijo terbuka lebar. Hijo sang kutu buku yang terkenal “dingin” dan mendapat julukan “pendito” sampai onzijdig, banci, akhirnya pun terlibat hubungan seksual di luar nikah dengan Betje, putri directeur salah satu maatschapij yang rumahnya ditumpangi Hijo selama studi di Belanda. Pertentangan batin karena melakukan aib dan panggilan pulang ke Jawa akhirnya menguatkan Hijo untuk memutuskan tali cinta pada Betje. Persoalan menjadi sedikit berliku ketika perjodohan dengan Raden Adjeng Biroe yang masih sanak keluarga, meskipun sesungguhnya Hijo terpikat dengan Raden Adjeng Woengoe, putri Regent Jarak yang sangat cantik. Di akhir cerita, ketegangan mendapat penyelesaian. Kebebasan memilih dan bercinta diangkat ketika Hijo tidak langsung setuju pada pilihan orangtuanya akan tetapi mencari idamannya. Rumus perjodohan berubah. Hijo dijodohkan dan menikah dengan Woengoe, sementara Biroe dengan Raden Mas Wardojo kakak laki-laki Woengoe. Semua, baik yang menjodohkan dan yang dijodohkan, menerima dan bahagia.

Senang mengenal salah satu karya klasik ini, meski sayang cuma 1 dari 5 bintang yang pantas disandang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s