Debat Akademis Berbalut Sastra

Para Priyayi: Sebuah Novel
Karya Umar Kayam

Terbit 1992 oleh Pustaka Utama Grafiti | Binding: Paperback | ISBN: 9794441864 (isbn13: 9789794441862) | Halaman: 343 | Karakter: Sudarsono, Asisten Wedana Ndoro Seten, Lantip, Wage

BAGAIMANA kalau aku katakan bahwa novel ini adalah cara Umar Kayam berdebat akademik dengan Clifford Geertz lewat sastra?

Semua orang yang mempelajari masalah-masalah sosial di Indonesia, di dalam maupun di luar negeri, pasti mengenal nama Clifford Geertz. Bukunya The Religion of Java, Peddlers and Princes, Agricultural Involution, Islam Observed, Interpretation of Cultures (yang merupakan kumpulan tulisan-tulisannya), dan yang terakhir Nagara merupakan buku-buku klasik dalam ilmu sosial.

Yang membuat Geertz menjadi penting bukanlah pengetahuannya tentang masalah-masalah sosial di Indonesia saja, tapi karena dia dapat mengangkat studi-studinya tentang Indonesia ke tingkat diskusi teori dalam ilmu antropologi. Dengan demikian, nama Geertz bukan saja dikenal di kalangan ahli tentang Indonesia, tapi juga di kalangan ahli antropologi dunia.

Geertz juga berhasil memasukkan pengertian Islam Abangan dan Islam Santri ke dalam perbendaharaan ilmu-ilmu sosial di Indonesia. Dalam melakukan analisis masyarakat Jawa, dia membagi orang Jawa ke dalam dua kategori tersebut. Dengan Islam Abangan dimaksudkan orang-orang yang meskipun mengaku sebagai beragama Islam, sistem nilai yang dianutnya masih sangat dipengaruhi oleh agama Jawa (yang sangat dipengaruhi agama Hindu). Ini tercermin dalam tingkah lakunya, yang seringkali bertentangan dengan orang-orang yang tergolong dalam Islam Santri. Orang Islam Abangan ini banyak mengelompok di dalam Partai Masyumi, NU dan partai-partai Islam lainnya.

Geertz juga mengeluarkan sebuah buku berjudul Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa (Editor: Bur Rasuanto, Penerjemah: Aswab Mahasin) yang menggeser dikotomi antara kaum santri dan kaum kafir, menjadi trikotomi: mereka yang santri, yang priyayi, dan yang abangan.

Terhadap buku yang terakhir disebut inilah, Umar Kayam melakukan debatnya. Perlu diketahui bahwa selain penulis dan budayawan, Umar Kayam adalah seorang antropolog. Dari Jawa pula.

Tentu Umar Kayam berpikir urusan soal ranah Jawi, masakan harus menelan bulat-bulat hasil pemikiran antropolog asing, dari Amerika pula. Maka Umar Kayam pun menulis novel ini Para Priyayi, dan dilanjutkan dengan sekuelnya novel Jalan Menikung. Isinya berisi keberatan dengan narasi ciptaan Geertz atas dunia priyayi.

Dengan gaya tutur yang dapat disebut baru, membiarkan aktor-aktor dalam novelnya bercerita mengalir menarasikan hidupnya sendiri. Novel Para Priyayi ini adalah semacam jawaban, semacam interupsi, mungkin ketidaksetujuan atas simplifikasi masyarakat Jawa yang ditorehkan Geertz.

Umar Kayam ingin mengatakan bahwa “priyayi”, menentang pemikiran arus mainstream, tidak melulu harus dari golongan ningrat atau keturunan darah, tapi bisa juga dari “status sosial” yang dalam novel ini dikisahkan tentang Sudarsono yang naik jabatan jadi guru bantu. Status sosial yang meningkat membuat Sudarsono mengganti namanya jadi Sastrodarsono (orang Jawa sangat lazim dengan tabiat ini sampai sekarang). Bukan cuma satu contoh, Umar Kayam juga terang-terangan mengatakan ada 2 tokoh lagi, si Lantip dan si Wage. Satunya, anak seorang bakul tempe dan lainnya ketua gerombolan perampok dan keduanya bisa jadi priyayi sesungguhnya di keluarga besar Sastodarsono.

Nilainya: 4/5 karena aku nggak suka priyayi. 😛

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s