Setara dengan The Bear dan Moby-Dick

Lelaki Tua dan Laut
Karya Ernest Hemingway

Terbit 1975 oleh Pustaka Jaya | Cetakan pertama: 1973 (cover kiri) | Binding: Paperback | Halaman: 100 | Karakter: Santiago, Manolin

Indonesian version of The Old Man and The Sea
Cetakan pertama, tahun 1973.
Cetakan kedua, tahun 1975.
Translator: Sapardi Djoko Damono

Salao —
demikian orang-orang memanggil Santiago, nelayan Kuba yang tua. Orang yang paling sial dari yang paling sial. Bagaimana tidak, selama 85 hari ia sudah melaut dan tidak mendapatkan ikan satupun padahal itu bulan September, bulan dimana arus besar selalu dipenuhi ikan. Rekornya, 87 hari tanpa ikan.

Tapi Santiago bukanlah orang mudah patah semangat, di hari ke-85 itu ia memutuskan untuk melaut sejauh-jauhnya sambil berdoa agar mendapat ikan. Memang benar, akhirnya tertangkap oleh kailnya, ikan Marlin sepanjang 18 kaki (luar biasa besar!!! dan belum ada orang yang berhasil menangkap sebesar itu) dan dengan penuh perjuangan dan rasa jumawa ia mengatakan bahwa dirinya telah menang. Karena begitu besarnya ikan Marlin itu dan dirinya sudah terlalu lelah, ikan itu diikat dan disampirkan di sisi kapalnya. Sesuatu yang menarik perhatian ikan hiu-hiu mako dan seolah-olah mengundang mereka untuk makan gratis.

Lalu benar, selama 4 hari Santiago berperang melawan hiu-hiu yang tak kunjung lelah menghabisi ikannya hingga yang tersisa hanya rangka. Salao memang si Santiago! Tapi di mata Manolin, anak kecil yang dapat disetarakan dengan murid, Santiago adalah nelayan hebat. Ia berjanji bahwa ia tidak akan membiarkan Santiago sendirian dan mulai saat itu menjadi partner lagi.

Setelah membaca novella (cerpen yang panjaaaaang) ini, saya menjadi seorang “believer”. Believer of dream and hard work. Santiago menunjukkan sesuatu yang penting dalam hidup yang dapat membuat perubahan: semangat. Dan soal ini saya berutang terima kasih yang banyak sekali pada Ernest Hemingway.

Novella ini ditulis Ernest Hemingway berdasarkan pengamatan dia sendiri waktu tinggal di Key West, Florida dan Kuba pada tahun 1930-an. Waktu itu bahkan Hemingway pernah menulis cerpen untuk majalah Esquire tahun 1936 tentang seorang nelayan Kuba yang diseret sampai jauh ke tengah laut oleh ikan marlin. Hingga akhirnya ikan tangkapannya itu disikat habis oleh hiu. Tampaknya ini yang kemudian dikembangkan oleh Hemingway menjadi novella Lelaki Tua dan Laut ini. Bagiku, novel ini dapat disetarakan dengan cerpen William Faulkner berjudul “The Bear” dan novel Moby-Dick karya Herman Melville.

Secara khusus mengenai novella ini, aku ingin mengatakan karya terjemahan ini dapat dijadikan standar/tolok ukur terjemahan yang berkualitas. Jadi salut untuk Sapardi Djoko Damono.

5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s