Jadilah Mercurian seperti para Hoa kiau…

Hoa kiau di Indonesia
Karya Pramoedya Ananta Toer

Terbit 1960 oleh Bintang Press | Binding: Paperback | Halaman: 299

BUKU ini mengupas masalah Hoa kiau di Indonesia ketika marak pembatasan etnis Tionghoa. Buku ini dibagi dalam sembilan surat yang dituliskan Pram kepada sahabat penanya di luar negeri yang berisikan pendapat dan pandangannya terhadap masalah hoa kiau di Indonesia. Namun bagi saya, buku ini bukanlah an sich mempersoalkan Hoa kiau di Indonesia sebagaimana judulnya, tetapi persoalan ruang untuk dialog perbedaan pendapat dan etika untuk menjawab perbedaan itu dengan pendapat yang wajar.

Saya sebenarnya bersepakat untuk lebih memakai kata “Hoa kiau” atau overseas Chinese daripada kata “Cina” maupun “Tionghoa.” “Tionghoa” atau “Zhonghua” artinya “orang (kerajaan) Tengah. ” Zhongguo” adalah nama Republik Rakyat Tiongkok dalam bahasa Mandarin. Nama “Cina” berasal dari kata dinasti Cin. Namun “Cina” resmi dimaksudkan untuk menghina pada zaman Presiden Soeharto. Mengucapkannya saja kadang-kadang saya kagok… huh 😦

Leo Suryadinata dalam buku The Culture of the Chinese Minority in Indonesia membuat dua kategori orang Hoakiau: peranakan dan totok. Dua kategori ini mulai muncul pada awal abad ke-20 ketika migrasi orang Cina ke Jawa meningkat. Menurut Suryadinata, kaum peranakan atau babah kebanyakan tak menguasai bahasa etnik mereka, entah Hokkian, Hakka atau Teochiu. Ada sedikit yang bisa bahasa Mandarin. Mereka mengirim anak-anaknya ke sekolah dengan kurikulum Belanda. Orientasi kewarganegaraannya Belanda. Mereka bekerja sebagai profesional, dokter, arsitek, penulis dan sebagainya.

Yuri Slezkine mungkin bisa membantu menerangkan fenomena Hoa kiau ini. Slezkine cendekiawan Rusia, dosen University California, Berkeley, menulis sebuah buku berjudul The Jewish Century, tentang etnik Yahudi, yang diganyang di Eropa sejak akhir abad ke-19, lalu melakukan migrasi besar-besaran ke negara lain. Analisisnya, bisa diterapkan pada minoritas lain seperti pada Hoa kiau di negeri ini. Slezkine menulis bahwa orang Yahudi hidup dalam suatu masyarakat dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu, dengan cara hidup tertentu pula, yang menimbulkan sentimen dari masyarakat sekitarnya. Namun orang Yahudi tak sendirian. Di dunia ini, di berbagai tempat dan waktu berbeda, selalu ada kelompok, yang secara eksklusif menyediakan jasa untuk masyarakat di sekitarnya. Mereka termasuk Roma-Gypsi di Eropa, orang Fuga di Ethiopia, Sheik Mohammadi di Afghanistan, etnik Armenia, orang India di Afrika Timur, etnik Lebanon di Afrika Barat dan Amerika Latin serta Hoakiao di Asia Tenggara.

Slezkine menyebut mereka, kaum “Mercurian,” sebagai lawan kata dari apa yang disebutnya, “Apollonian.” Dalam kepercayaan Romawi, Apollo adalah dewa pertanian dan peternakan. Masyarakat Apollonian utamanya petani, plus ksatria dan ulama, yang hidup dengan cara mengatur akses para petani tadi ke tanah dan surga. Mercuri adalah dewa para pengembara, pedagang, penerjemah, tukang, penunjuk jalan, pengobat dan semua pelintas batas. Kaum Mercurian adalah kelompok etnik yang tak terlibat produksi makanan. Mereka hidup dengan menyediakan jasa kepada kaum Apollonian. Zaman dulu, masyarakat Apollonian menganggap ada pekerjaan yang berbahaya atau kotor, untuk dikerjakan warga mereka sendiri. Contohnya, berhubungan dengan negeri asing; mengatur uang; mengobati orang sakit; bekerja dalam penempaan logam misalnya. Semua ini adalah kemahiran kaum Mercurian. Para pengembara kebanyakan mulai sebagai tukang. Kakek buyut Slezkine adalah tukang besi Yahudi.

Kaum Mercurian sering pindah tempat. Mereka memahami pentingnya menguasai bahasa-bahasa. Kaum Apollonian memandang Mercurian berbahaya, kotor dan asing. Kaum lelakinya bukan ksatria, jarang ikut perang. Kaum perempuannya dianggap cantik namun juga genit, menggoda. Makanan mereka berbeda. Mereka hanya membeli, menjual dan kemungkinan mencuri, barang maupun ide. Mereka dibenci dan puncak kebencian terhadap kaum Mercurian adalah Holocaust –pembunuhan lebih dari enam juta orang Yahudi di Jerman oleh rezim Adolf Hitler. Penjagalan manusia terbesar dalam dunia modern saat Perang Dunia II.

Holocaust bikin jutaan orang Yahudi lari dari Eropa. Slezkine menyebut tiga tujuan utama: Palestina dimana mereka mendirikan negara Israel; Amerika Serikat dimana ada nasionalisme liberal non-etnik; dan Uni Soviet dimana ada komunisme –dunia tanpa kapitalisme dan nasionalisme. Semua berhasil dengan variasi masing-masing. Kaum Yahudi lantas jadi lambang dari penganyangan massal sekaligus kesuksesan.

Slezkine menyebut Mercurian berhasil karena sudah lama sekali jadi kaum urban, melek sastra, artikulatif dan secara pekerjaan fleksibel. Mereka mementingkan akal sehat, keuletan, kebersihan, melintasi batas serta memilih “memelihara” hubungan dengan orang daripada memelihara ternak.

“Hari ini kita semua diharapkan jadi orang Mercurian,” kata Yuri Slezkine. Saya kira, barisan Mercurian ini bertambah di Indonesia dengan pendatang Madura di Kalimantan, orang Jawa di Sumatra, perantau Bugis, Buton, Makassar di Maluku atau orang Rote di Pulau Timor. Jadi hidup hoa kiau, hidup kaum mercurian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s