Perempuan Jawa Dalam Arus Pertentangan di Zaman Mataram

Rara Mendut: Sebuah Trilogi
Karya Y.B. Mangunwijaya

Terbit 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama 1983 (cover kanan) | ISBN: – (isbn13: 978979223617) | Binding: Hardcover | Halaman: 806

PENGGABUNGAN trilogi Rara Mendut-Genduk Duku-Lusi Lindri ke dalam satu satu edisi hardcover seperti ini menimbulkan keinginan untuk membelinya sekedar koleksi, karena trilogi ini sudah selesai terkunyah lama di waktu sekolah dulu (1992). Dulunya judul awal Rara Mendut adalah Roro Mendut. Genduk Duku dului Gendhuk Duku, dan Lusi Lindri tetap Lusi Lindri.

Baca pertama kali tahun 1992, lalu diulang lagi Juli 2008. Meskipun berbeda tahun pembacaan, kesannya tetap sama saat membaca novel sejarah yang satu ini. Sama-sama terkesan oleh keluwesan tutur penulis yang sudah tampak sejak novel pertama dia Balada Becak yang mampu menampilkan mantra-mantra bunyi. Review di bawah ini tetap mempertahankan nama-nama lama yang ada di cetakan pertamanya karena terasa lebih asli dan njawani. Entah apa alasannya kenapa versi hardcover ini harus “memaksakan” mengindonesiakan tokoh-tokoh ini.

Buku pertama:
Inilah Roro Mendut, gadis pantai yang diboyong paksa ke pedalaman. Pertentangan antara budaya pantai dan pedalaman, antara halus dan kasar, antara urakan dan mriyayeni. Semuanya berlangsung di tengah bangkitnya sebuah dinasti baru di tanah Jawa.

Di awal, kita disodorkan oleh deskripsi masyarakat nelayan di desa Telukcikal yang didiami oleh orang-orang yang amat menghargai kerja keras dan berdialog langsung dengan tantangan laut yang ganas. Satu hari datang bala tentera dari Pathi yang menjemput Roro Mendut karena sang Adipati Pathi, Pragolo II namanya, kepincut oleh mata berani milik Roro Mendut. Roro Mendut digambarkan biasa saja cantiknya, tetapi ia memiliki “keberanian” yang membuat Adipati Pragolo kesengsem. Saat Roro Mendut tinggal di istana Pathi, ia ditemani Ni Semongko dan Gendhuk Duku (iya.. iya… Gendhuk Duku sudah muncul di novel ini, tapi dia akan dikupas lebih dalam di novel kedua yang berjudul sama dengan namanya). Sayang, Pragolo tewas di tangan Tumenggung Wiroguno, 56 tahun (dikatakan penulis usianya baru sapta windu) yang datang jauh-jauh dari ibukota Mataram di Kutha untuk menumpas pemberontakan Pathi. Akhirnya Roro Mendut diboyong sebagai perempuan rayahan ke ibukota Mataram. Tumenggung Wiroguno sendiri, yang sudah punya istri dan banyak selir, kepincut juga dengan Roro Mendut dengan alasan yang sama seperti Adipati Pragolo: Roro Mendut adalah harimau yang tidak mau dengan mudah ditundukkan.

Pencitraan Roro Mendut si gadis pesisir sebagai “sulit ditaklukkan” bahkan oleh seorang Adipati/Tumenggung adalah sebuah penyimbolan betapa kekuasaan sebesar apapun tidak akan mampu menaklukkan kemauan yang kuat. Roro Mendut adalah simbol perjuangan kemauan, simbol perempuan yang berdaya yang tidak sekedar inggih-sukerso pada kehidupan. Ia justru takluk pada prono (jiwa) dan citro (gambaran), atau dalam diri Pronocitro.

Latar belakang semakin kuatnya kekuasaan Mataram di tangan Susuhunan Hanyokro-Kusumo Senopati Ingalaga Mataram yang sedang berusaha mendapatkan statusnya sebagai Sultan Agung (digambarkan dia baru pulang umroh dari Mekah)dan berjuang memperluas wilayah untuk merebut Betawi serta masih berpusatnya kerajaan di Kutho semakin menambah menarik konteks sejarah novel ini. Untuk lebih asyik membaca kisahan sejarahnya, aku rekomendasikan baca karya-karya javanolog H.J. De Graaf yang telah diterbitkan oleh KITLV dan Grafiti.

Bila suka, meskipun tidak disukai oleh penulisnya sendiri, silakan menonton film yang diberi judul sama seperti novelnya.

Roro Mendut (1982)
Sutradara: Ami Priyono

Para pemain:
W.D. Mochtar … Tumenggung Wiroguno
Mathias Muchus … Prono Citro
Meriam Bellina … Roro Mendut

Buku kedua:
Gendhuk Duku, dayang kesayangan Roro Mendut, harus lari dan bersembunyi dari kejaran pasukan Wiroguni. Di bawah lindungan Bendoro Pahitmadu, Gendhuk Duku kembali ke Pekalongan. Selain bertemu dengan ibunda Pronocitro, Gendhuk Duku juga bertemu dengan kekasih hatinya, Mas Slamet, teman nelayan den Roronya di dusun Telukcikal.

Meski telah menikah, Gendhuk duku kerap mendapat godaan dari banyak lelaki berkuasa. Dari mulai seorang Warok, hingga Raden Mas Jibus alias Pangeran Aria Mataram sang Putera Mahkota menginginkan tubuhnya. Dengan segala kepandaiannya, Gendhuk Duku berhasil “mengusir” para lelaki “iseng” tersebut. Ternyata keplayboyan Raden Mas Jibus tidak berhenti pada seorang Gendhuk Duku. Ia juga mengincar Putri Tejarukmi, seorang selir muda belia Tumenggung Wiroguno, “musuh “ lama Genduk Duku. Kembali Gendhuk Duku berduka, karena kehilangan kekasih hatinya, di tangan orang yang sama dengan pembunuh kakak sekaligus sahabatnya, Roro Mendut.

Buku ketiga:
Lusi Lindri, perawan cantik putri Gendhuk Duku, sudah pasti gemar naik kuda seperti ibunya. Tumbuh besar di puri Tumenggung Singoranu. Suatu hari Kanjeng Ratu Mataram, berkenan memilih Lusi untuk menjadi Trinisat Kenya, pengawal elite Raja Mataram. Lusi Lindri mulai mengenal dunia telik sandi alias mata-mata, dan menjadi mata-mata yang dipercaya oleh Ratu. Lusi juga mulai mengenal cinta, kepada Hans, putra seorang Belanda, tawanan Mataram dan akhirnya jatuh ke pelukan Peparing, seorang pimpinan pemberontak, duda satu anak. Ada baiknya juga membaca buku tulisan Ann Kumar yang bercerita tentang kisahan prajurit perempuan di Istana ini yang diangkat dari jurnal harian seorang Trinisat Kenya.

5/5 untuk novel sejarah ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s