Keseragaman & Keindahan Berpuisi

Dead Poets Society
karya N.H. Kleinbaum

Terbit 2004 oleh Jalasutra | Cetakan pertama: 1989 | Binding: Paperback | ISBN: 0979976520X (isbn13: 9789799765208) | Halaman: 226 | Karakter: Todd Anderson, John Keating

Diangkat dari film Dead Poets Society, Tom Schulman, Touchstone Pictures
Indonesian version of Dead Poets Society, Bantam Books, July 1989

Penerjemah: Septina Ferniati
Editor: Kurniasih


Carpe diem! Seize the day!

Kata-kata itu yang kuingat setiap kali orang berujar tentang Dead Poets Society, sebuah film yang memukau karya Tom Schulman yang kemudian dibukukan oleh Kleinbaum.

Ada dua hal yang menarik bagiku ketika membicarakan tentang Dead Poets Society. Pertama, mengenai keseragaman. Keseragaman yang dibicarakan di sini, bukan cuma keseragaman fisik, tetapi juga pikiran. Bagaimana Todd Anderson dkk harus patuh pada cara memakai baju, aturan sekolah, serta cita-cita yang dibentuk oleh hasrat ortu dan sekolah kembali mengingatkanku pada keseragaman di zaman SD dulu.

Selain baju merah putih, upacara, hapalan tentang dasar negara dan undang-undangnya, keseragaman juga hadir waktu pelajaran menggambar. Ketika guru gambar, Bu Lisa, minta kita menggambar pemandangan, maka hampir dapat ditebak sebagian besar akan menggambar hal yang seragam: 2 puncak bukit, matahari, jalan raya yang membelah pelataran sawah. Detail-detailnya juga mungkin bisa sama: beberapa burung, pohon, dll. Padahal aku yakin yang dimaksud Bu Lisa dengan gambar pemandangan, bisa saja gambar kali Code yang kotor dengan sampah dan lain-lain. Tapi itu dulu ya…

Kedua, mengenai kecintaan pada puisi dan memaknai puisi. Puisi-puisi yang bukan cuma bagus diksinya, tetapi juga memberi makna pada hidup berseliweran di sini. Kurniasih si editor menyebut puisi itu “serbuk ajaib” yang mampu membuat pembaca puisi jadi berbeda setelah selesai membaca puisi. Coba simak puisi Walt Whitman ini:

“O kehidupan yang penuh dengan pertanyaan yang terus muncul,
Tentang rangkaian ketidakyakinan yang tak pernah berakhir, tentang kota yang diisi dengan kebodohan…
Apa gunanya berada di antara semua ini O kehidupan?”

Seorang remaja yang membacanya, terutama mereka yang gelisah akan makna hidup, akan menangkap semangat Whitman yang mengajak mereka untuk membuat hidup jadi lebih berarti daripada menjadi remaja sekedar.

Atau puisi ini:
“Kumpulkanlah kuntum-kuntum bunga selagi bisa,
Masa lalu masih ada,
dan bunga ini yang tersenyum hari ini
Besok akan mati”

Maka dapat dipastikan juga, seorang remaja akan bersegera membuat perubahan dalam hidupnya karena…

“Aku ingin hidup penuh makna dan mengisap semua sumsum kehidupan. Untuk mengusir semua yang tidak hidup,
jika tidak, jika mati aku tahu bahwa aku tak pernah hidup”

5/5 untuk buku dan juga filmnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s