Andai Dyah Merta Mau Bersabar

Peri Kecil di Sungai Nipah
Karya Dyah Merta

Terbit 2007 oleh Penerbit Koekoesan | Binding Softcover | ISBN 979144207X |
Halaman 300 | Karakter Gora | Setting: Nipah

Peri Kecil di Sungai Nipah adalah salah satu novel yang sempat saya lewati 3-4 kali di salah satu rak toko buku karena sampulnya bagus tapi urung dikunyah karena menunggu review yang baik. Segala puja-puji yang dapat dibaca di sampulnya dari profesor Melani dan bintang lima dari Roos menjadikan pemompa semangat untuk mengunyah habis novel ini selama akhir pekan. Hasilnya: ada “slilit” yang mengganggu perkunyahan saya.

Di http://merta.multiply.com, Dyah Merta menulis bahwa Peri Kecil di Sungai Nipah adalah… “Sebuah Novel berlatar Indonesia era 60-an, dimana partai Komunis Indonesia mulai menebarkan benih sejarahnya. Pusat cerita adalah tentang perselisihan sebuah keluarga. Cerita merembet pada rangkaian yang lebih mencirikan perselisihan yang generik. Novel yang berkekuatan deskripsi, riset sejarah Indonesia yang kuat, narasi yang tangguh, dan penceritaan seorang anak yang lugu. Ini cerita tentang perselisihan, pergulatan dunia era 60-an tentang darah yang telah mengukir Indonesia.”

Hmmm… anehnya di saat mengunyah novel ini, nggak ada tuh jejak kerangka waktu yang dimaksudkan dirinya. Bahkan dengan sedikit menggoogling, setting waktu dan tempat tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang dapat saya bandingkan pada isinya. Apa yang terjadi di Sangir, di pemukiman dekat Sungai Nipah pada tahun 1960-an. Jadi nilai eksentrik dalam novel ini, justru jadi batu sandungan bagi saya untuk menilainya.

Bagaimana dengan isinya? Donny Anggoro menilai alur novel ini kurang padu, dengan menggunakan ukuran Mario Varga Llosa sastrawan Peru dalam buku A Letters to A Young Novelist. Penilaian yang menarik. Tetapi saya punya penilaian sendiri bahwa novel ini “belum siap”, ibarat buah dia “belum matang”. Kita memang bisa merasakan serat dan tekstur daging buahnya, tetapi khasiat dan manfaatnya tidak. Dalam rasa, sungguhpun terasa persuasif dan menggoda selera membaca, novel ini pada akhirnya menyisakan rasa pahit di pangkal tenggorokan selesai mengunyahnya.

Saya sempat kecele dalam alur yang disebut alur spiral atau dalam blognya ditulis “dramatical circular story”… bila diawal kita digiring untuk memahami perselisihan Karyo Petir dan Dalloh akibat datangnya Kulung, si anak haram yang disebut anak babi… sejenak kemudian dalam episode yang berbeda, kita diajak melompat masuk ke dalam diri Gora putri kesayangan Karyo Petir. Biasanya saya suka cerita yang mind-twisting, tetapi tidak dengan yang satu ini. Ini seperti kecele yang nggak enak karena banyak detil yang disajikan tercerai-berai. Pembaca “dipaksa” untuk mengingat apa-apa yang terjadi sebelumnya dan itu sama sekali tidak menyenangkan.

Akhirnya saya cuma bisa berandai-andai… seandainya Dyah Merta lebih sabar menunggu dengan menutup banyak celah yang ada di dalam novel ini, seandainya alurnya bisa lebih padu lagi seperti yang disinggung Donny Anggoro, seandainya warna lokal dan konteks waktu novel ini bisa lebih dipertegas lagi, tentunya bukan tidak mungkin pujian prof Melani bahwa novelis ini akan meletakkan sastra Indonesia di blantika sastra dunia terwujud. Amin. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s